Showing posts with label historical. Show all posts
Showing posts with label historical. Show all posts

June 19, 2017

In This Corner of the World

Fumiyo Kono sempat menuliskan Yunagi no Machi Sakura no Kun pada tahun 2004 yang mengangkat tema dampak dari pasca perang. Karyanya tersebut memenangkan Japan Media Arts Festival's Grand Prize for manga di tahun 2004 serta Tezuka Osamu Creative Award di 2005. Lalu di 2007 dengan ciri khas gambarnya ia menuliskan In This Corner of the World (この世界の片隅に; Kono Sekai no Katasumi ni) yang menggunakan tema perperangan kebali. Sekali lagi, karyanya satu ini terpilih sebagai Karya yang Direkomendasikan oleh Juri (Juara Harapan?) pada 2008 di ajang Japan Media Arts Festival dan memenangkan Excellence Prize pada tahun 2009. 5 Agustus 2011, In This Corner of the World tayang live-action yang dibintangi oleh Keiko Kitagawa dan Keisuke Koide.


Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Sebagai Peringatan 70 Tahun Bom Hiroshima, animasi In This Corner of The World mulai tayang di layar lebar pada 2016 yang diproduksi oleh MAPPA, distudarai dan ditulis oleh Sunao Katabuchi (Black Lagoon, Princess Arete dan Mai Mai Miracle), desain karakter oleh Hidenori Matsubara (Sakura Taisen series, Aa! Megami-sama! series dan The Princess and the Pilot) dan musik oleh kotringo (Koufuku Graffiti dan Kuma No Gakkou - Jackie to Katie). Tak hanya manga-nya saja yang menyambet penghargaan, namun versi adaptasi ini juga sukses meraih pelbagai penghargaan seperti Hiroshima International Film Festival's Peace Film Award Hiroshima, 40th Japan Academy Prize Animation of the Year, Osaka Cinema Festival 2017 Japanese Film Best10 dan masih banyak lagi.

Bengong Melamun
Suzu Urano, gadis 18 tahun yang yang tinggal di Eba, Kota Hiroshima ini selalu memiliki pandangan positif dalam hidupnya, walau kejadian yang menimpa hidupnya engga selalu enak tapi ia selalu saja bisa mencari jalan positif. Sisi positif miliknya juga dipicu oleh sifatnya yang mudah lupa atau sulit mengingat keadaan sekitar dalam jangka pendek. Kehidupan keluarganya sangatlah damai.

Pada usianya yang menjelang 19 tahun ini ia mendadak dilamar oleh Shuusaku Houjou, seorang pria yang tidak ia kenali, tepatnya ia tidak ingat pernah bertemu atau melihatnya dimana. Neneknya pernah mengatakan semua tergantung pilihan pada Suzu sendiri, ia bisa saja menolaknya bila tak menginginkannya. Setelah memikirkannya cukup matang ia menerima tawaran pria tersebut.


Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Suzu pun memasuki stage baru dalam kehidupannya, tantangan baru muncul bertubi-tubi menghantam dirinya. Sifatnya lugu, sedikit ceroboh dan airhead harus bekerja extra agar dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Perihal saat ini tinggal di Kure yang jauh dari tempat asal, ibu mertua kondisinya saat ini sudah sulit untuk berjalan, kakak ipar yang galak dan keras, mengingat nama-nama tetangga dan jalan, mengubah gaya hidup saat masih gadis dan lain-lain. Suzu yang sudah menjadi ibu rumah tangga ini juga harus bangun lebih pagi, seperti untuk menimba air, menyiapkan makanan dan membereskan rumah.

Hidup pada tahun 1944, jaman perang, membuat keadaan menjadi sulit. Ransum yang terbatas, porsi atau isi pokok lauknya bisa saja berkurang sewaktu-waktu. Hal ini membuat Suzu berpikir bagaimana cara membagi jumlah ransum yang terbatas untuk 1 rumah dan bagaimana mendapatkan dan/atau menambahkan porsi lebih ketika keadaan sangat minim.

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Ketika waktu senggang, Suzu kembali pada hobi lamanya yaitu menggambar alam yang ada di depan matanya. Hobi ini sudah terasah sejak ia kecil hingga membuahkan hasil gambar yang bagus dan indah. Seringkali hobi ini malah menjadi menyulitkan dirinya, pensil yang seharusnya digunakan untuk bersekolah malah dihabiskan untuk menggambar. Suzu yang tinggal di bukit bisa melihat jelas perairan yang dipenuhi oleh kapal-kapal perang seperti Musashi dan Yamato (ia diajarkan oleh keponakannya, yang sebenarnya pernah diajarkan langsung oleh Shuusaku, tapi ia sulit mengingatnya). Ditengah-tengah asyiknya menggambar tiba-tiba ada sepasang polisi yang menggrebeknya dan dicurigai sebagai mata-mata.

Begitu dibawa kerumah, permasalahan ini tak kunjung selesai, bahkan ketika polisi tersebut masih tanya-jawab, mencurigai, menceramahi dan mengancam keluarga Houjou, Suzu malah tak ingat sama sekali tadi ia sedang apa hingga polisi bisa membawa ia kerumahnya.

Meski terlihat damai dan tenang, keluarga Houjou tak lupa bahwa lingkungannya sedang dalam area perang. Suzu dan penduduk warga sekitar diberi bekal ilmu pengetahuan seperti bom, evakuasi, alarm tanda bahaya dan lain-lain dari pihak Angkatan Laut. Keluarga Houjou juga membangun sebuah tunnel evakuasi untuk tempat berlindung apabila ada serangan.

Pada tahun 1945, keadaan mulai memanas, alarm evakuasi yang hampir tiap malam selalu bunyi (kadang hanya alarm bohongan), serangan yang tak mengenal waktu dan tempat, pangan yang semakin sulit didapatkan.

Perlahan Tapi Pasti
Hampir setengah film penonton hanya suasana yang adem kalem, indahnya kehidupan bersama keluarga hingga sampai lupa bahwa keadaan saat itu ditengah-tengahnya panasnya api perperangan. Tak perlu khawatir dengan transisi cerita yang super santai dan rileks hingga menjadi drama serius. Movie ini berhasil membuat alur secara natural dan epik, dengan perlahan-lahan penonton diasupin dengan sulitnya kondisi perang (sedikit demi sedikit) hingga dampak kondisi perang terlihat dengan pasti dan jelas. Sifat Suzu yang sudah terbentuk sedemikian rupa tidak membuat lingkungan sekitar dan penonton terjebak dalam depresi dan kesedihan. Ia akan bangkit, mencari cara, mencari jalan, terus berjuang tak menyerah melanjutkan hidup di masa yang sangat sulit.

Cinta, Harapan dan Keberanian
In This Corner of the World memperlihatkan dengan baik kondisi Perang Dunia II. Mulai dari pernikahan pada jaman saat itu, mengubah pakaian tradisional menjadi pakaian sehari-hari yang bisa lebih sering digunakan, ransum, kehidupan para angkatan laut, alarm tanda bahaya, hingga tragedi pengeboman Hiroshima yang mehilangkan banyak umat manusia. Rumah yang sudah dipertahankan dan diperjuangkan sekuat mungkin, tiba-tiba hancur oleh perang. Tak hanya rumah saja, bahkan orang-orang terdekat dan tercinta juga bisa kehilangan.

Interaksi dan jalin hubungan yang dibangun Suzu mampu mengisahkan tiap karakternya dengan baik. Hubungan antar karakternya yang tersusun baik dan rapi membuat penonton akan mendapatkan kisah-kisah karakternya secara mendetail. Bahkan disini kita juga diperlihatkan bahwa sepasang suami-istri yang seperti ini saja juga bisa bertengkar karena hal sepele. Tanpa sadar, penonton akan menikmati (dan turut merasakan) cara Suzu memperjuangkan hidupnya di sudut dunia ini yang selalu menginspirasi dan memberikan banyak pesan moral

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Yang mengejutkan dari movie ini salah satunya latar belakang yang benar-benar direka sesuai keadaan saat itu. Saat movie sudah berakhir, pastikan kamu melihat credits-nya hingga benar-benar habis. Karena ada epilog ketika credits sedang berlangsung.

War is like love, it always finds a way. 
Read more ... → In This Corner of the World

August 29, 2015

Battle of Surabaya

Hai, lama tak kunjung ke blog ini. Padahal aku sudah planning akan mulai menulis lagi ketika libur lebaran usai, namun apa daya, ternyata aku masih banyak urusan dan harus mefokuskan pada suatu hal tertentu. Yak, abaikan (curhatan) kehidupanku yang tak penting... kira-kira sejak 2-3 tahun lalu atau tepatnya semenjak gambar serta video teaser Battle of Surabaya meramaikan media sosial, aku sebagai salah satu netizen yang saat itu melihat juga, tentu hype akan film animasi ini. Waktu ke waktu mulai beredar poster perekrutan casting (berupa dubber contohnya) di media sosial. Tapi setelah itu, mendadak kabarnya hilang dan seperti tidak ada kepastian kapankah film animasi ini mulai tayang. Hingga saat Desember 2014, aku yang sedang iseng mencari referensi dan ingin membeli buku online ternyata versi komiknya terbit lebih dulu.



Animasi yang memiliki durasi kurang lebih 100 menit ini disutradari oleh Aryanto Yuniawan dan ditulis M. Suryanto akhirnya mulai bisa disaksikan pada layar lebar pada tanggal 20 Agustus 2015. Aryanto Yuniawan sendiri rangkap sebagai sutradara, penulis dan salah satu produser, Hery Soelistio dan Adi Djayusman menjabat sebagai produser dan beberapa pengisi suara yang berpartisipasi adalah Ian Saybani, Maudy Ayunda dan Reza Rahadian. MSV Pictures sendiri juga sudah sering memproduksi film animasi pada Indonesia, misalnya pada 2003 Homeland dan mungkin yang paling umum adalah salah satu produk ice cream Petualangan Singa Pemberani Paddle Pop. STMIK Amikom ikut serta dalam produksi film animasi ini.

Aku pun akhirnya meluangkan waktu untuk menyempatkan nonton ini pada kemarin lusa. Kesalahan besar adalah aku sangat telat sekali menontonnya, hingga hanya sedikit bioskop yang masih menayangkannya plus aku menonton bareng rombongan SD dan SMP ternyata. Makanya aku sempat terkejut saat membeli tiket, setengah ruangan terisi penuh. Namun ketika aku masuk kedalam, anehnya sepi sekali dan dibangkuku terdapat set cemilan lengkap tak bertuan. Entah ini jebakan penjual popcorn di dalam atau punya salah seorang rombongan sengaja menaruhnya disitu, aku yang optimis salah tempat lansung menanyakan bangku yang kududuki benar atau salah pada penjaga tiket disitu. Mata dan rasa penasaranku terkadang melirik set cemilan tersebut, apa yang sebaiknya aku lakukan pada set cemilan tersebut? 10-20 menit film mulai diputar barulah para rombongan mulai memasuki ruangan dan orang dari rombongan mulai mengambil cemilan tersebut yang ditaroh tepat pada bangkuku. Kurang beruntungnya lagi adalah keasikanku saat menonton mulai diusik oleh rombongan tersebut, yang berisi anak-anak kecil, ribut, menendang-nendang bangkuku dan tepat disampingku anak kecil malah tidur ngorok. Ah, sekali lagi aku minta maaf, malah menceritakan curhatanku yang tidak ada kaitannya sama dengan film ini.

Pertempuran Surabaya 10 November
Musa seorang anak tukang semir sepatu, siapa sangka ia akan menjadi kurir untuk pesan rahasia. Awalnya Musa pun ragu apakah ia bisa menjalankan misinya dengan baik atau tidak, tapi keraguan tersebut dihilangkan oleh Danu seorang tentara yang ahli dalam pengirim pesan dan Musa pun dibantu oleh teman karibnya, Yuna.

Animasi Tidak Konsisten
Ya, lemahnya pada animasinya terlihat jelas dimana gerakan tokoh seringkali kaku (belum bisa melakukan gerakan wajar / manusiawi). Terlebih lagi yang membuat aneh adalah tokoh yang di depan menggunakan 2D, sedangkan tokoh yang dibelakang 3DCG serta background perkotaan seperti menggunakan V-ray 3DS Max (oh semoga aku salah dalam hal ini). Dan beberapa pemandangan, contohnya hutan, digambarkan dengan cantik yang saat itu juga aku merasa makin ketidakseimbangan pada animasi yang diberikan. Satu hal lagi, entah positif entah negatif, film ini minim pertumpahan darah walaupun kenyataannya sebenarnya tokoh-tokoh disitu mengalami luka ringan dan luka berat. Penggambaran tokohnya sendiri aku rasa beberapa ada yang anime style beberapa lokal, gaya Indonesia (dari penggambaran hidung dan mulut/bibir).

Translation Note?
Yang paling aku kecewakan disini adalah engga ada catatan dan/atau penjelasan istilah dan singkatan-singkatan yang ada dalam film ini. Yang aku tahu dan bisa dengarkan dengan jelas hanyalah PETA (dan Fujinkai?) tapi aku sendiri pun lupa kepanjangan dan fungsi pasukan tersebut. Jadinya daripada memusingkan hal ini aku mengabaikannya meskipun istilah-istilah itu berulang kali ketika ditayangkan. Tolong maklumi aku yang bodoh ini dalam hal sejarah.

Pakde Cak Ning
Segi dubbing aku katakan baik, meskipun Maudy Ayunda terkadang membuat suara Yuna menyelekit menjadi aneh, dan hei kemana suara Yuna imut tadi? Yang jadi favoritku adalah dubbing untuk Englishnya dan bahasa daerah, meskipun sepertinya kebanyakan Basa Jawa yang digunakan.

Musa × Yuna
Membicarakan storynya, awalnya aku sempat khawatir apakah peristiwa sejarah ini hanya akan menjadi sub-plot saja dan plot utamanya mengutamakan pada lingkungan dan hubungan Musa yang dijalani. Tapi semuanya mendapatkan porsinya masing-masing, perang, misi tiap tokoh, hubungan antar tokoh dan lain-lain. Dan untuk story agak sedikit twist yang mampu membuat penonton menebak-nebak apa yang terjadi kedepannya (dan dalam film ini semua tebakanku salah, nice). Dikarenakan film ini tidak sepenuhnya historical, nasionalisme dan/atau pun action maka diperlukan bumbu humor yang menyegarkan (untuk menghilangkan kejenuhan serta kebosanan bagi penonton anak-anak). Battle of Surabaya dapat menyisipkan humor di waktu yang tepat sehingga mengembalikan kembali fokus anak-anak untuk menontonnya. Lalu bagaimana dengan humor untuk kalangan remaja dewasa? (mungkin bagi yang merasa humor sebelumnya yang murahan atau basi) tenang saja mereka mampu mensuguhinya kalo tidak percaya bisa dilihat sendiri. Jujur saja pada adegan tersebut aku engga nyangka bakal ada scene tersebut, dan lebih engga nyangka lagi bakal dibikin 'melenceng' begitu.

Apapun Alasannya, Perang hal sia-sia
Sebenarnya begitu usai menonton ada banyak sekali yang ingin kutulis, tapi begitu di depan keyboard dan layar semua yang ada di benakku mulai lupa satu per satu, sial. Salah satu hal yang akhirnya berhasil aku ingat adalah Battle of Surabaya mengentalkan agama Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia. Hal ini terbukti dengan suara adzan, salam sapa, berdo'a dan lain sebagainya. Tapi di satu sisi, mereka juga mampu menampilkan keragaman budaya dan agama dengan scene-scene yang ada, misalnya ketika Yuna berdo'a dan kaum Tionghoa atau Kong Hu Cu. Battle of Surabaya dapat memperlihatkan tragedi perang yang tergambarkan melalui perasaan Musa dan kawan-kawan.

Mengesampingkan animasinya yang masih kurang sana-sini, dubbing dan BGM sudah cukup baik (seperti ketika granat dilempar, dengan suara efek begitu aku berharap mendapatkan adegan dari sudut mata langsung dari Musa, bukan sudut mata ketiga).

Penutup tulisan ini, ending dari Battle of Surabaya, aku pribadi demen banget, benar-benar terharu. Mereka memperlihatkan arti kedamaian sejati, seandainya tak ada perang, makanya semuanya saling rangkul-merangkul, bahu-membahu, senyum tertawa bersama entah itu kaum Belanda, China, Jepang, Jawa dan lainnya. Eh, sebenarnya aku juga sempat iseng mencari review film ini dan lumayan banyak juga mengkritik negatif dan pedas, soalnya sedikit penasaran sempat ratingnya hampir sempurna di IMDb, salah satunya tentang latar pegunungan (atau bukit?)
Read more ... → Battle of Surabaya

May 12, 2014

Fruitbat Factory Akan Melokalkan Sebuah Game VN Tactical RPG yang Berjudul Eiyuu Senki: The World Conquest

Fruitbat Factory mengumumkan akan membawa game SRPG/Visual Novel hybrid yang dikembangkan oleh Tenco, Eiyuu Senki: The World Conquest ke bagian barat.



Di dalam game ini menghadirkan tokoh-tokoh dari sejarah, digambar ulang sebagai gadis anime yang cute dari berbagai usia dan penampilan. Terdapat lebih 70 tokoh yang masing-masing digambar oleh doujin artis terkenal Oyari Ashito.


Berikut sipnosisnya berdasarkan dari situs Fruitbat Factory:
"Di dalam dunia dimana negara-negara kuat merajalela dan para hero bertarung satu sama lain untuk supremasi, bangsa besar Britannia bertujuan untuk menyatukan dunia dengan jalur perdamaian, sementara European Union telah diadopsi kebijakan agresif dan bangsa Seafaring Nation di Vinland tumbuh subur dengan rampasan dan penjarahan. Jauh di timur sana terdapat negara kecil, Zipang terjebak pada rawa kerusuhan sipil.

Ditengah semua ini, tokoh utama kita yang mengalami memory-loss mempunyai pertemuan penuh takdir dengan Hero of Yamatai, Himiko. Mereka bersama-sama menyelesaikan permasalahan internal Zipang dan pergi menuju ke dunia yang diselimuti oleh bara api peperangan yang membakar."


Saat ini mereka berencana untuk ke versi PS3 dan itu pun hanya secara digital. Belum diumumkan tanggal rilisnya kapan, tapi game ini akan diluncurkan ke North America dan Europe berbarengan.


Sumber: RPG Site
Read more ... → Fruitbat Factory Akan Melokalkan Sebuah Game VN Tactical RPG yang Berjudul Eiyuu Senki: The World Conquest

March 14, 2014

The Wind Rises

Akhirnya kemarin sore aku menyempatkan menonton ini, sangat tak sabar ingin buru-buru segera menontonnya namun apa daya ada beberapa halangan seperti macet salah contohnya hingga baru bisa mengambilnya sore hari. Dan pengunjung di tempatku menonton cukup sedikit, hanya 25 orang... itu juga ada 1 orang yang keluar di awal dan 1 orang keluar menjelang akhir film. Yang disayangkan juga adalah di Blitz Megaplex di tempatku menonton suaranya lumayan sering putus-putus hingga pertengahan film dan kursi yang kududuki kondisinya kurang baik sehingga sering mengeluarkan suara yang mengganggu dari engsel kursinya.

The Wind Rises (風立ちぬ; Kaze Tachinu) mengudara di Jepang tahun lalu, lalu disusul di negara lain seperti Taiwan, Perancis, Australia dan Amerika Serikat. Tentunya Hayao Miyazaki menjadi sutradara dan screenplay disini, Hideaki Anno menjadi seiyuu peran utama pria juga Toshio Suzuki sebagai produser. Film ini berdasarkan dari novel karya Hori Tatsuo pada tahun 1936-1937 dan Jiro Horikoshi sang insinyur pencipta pesawat Mitsubishi A5M dan Mitsubishi A6M Zero pada Perang Dunia Kedua menjadi tokoh utama pria dalam cerita fiksinya. Lagu yang ada di film ini berjudul Das gibt's nur einmal yang dinyanyikan oleh Hideaki Anno & Morio Kazama & Stephen Alpert dan lagu penutup yang berjudul ひこうき雲 (Hikoki Gumo; Contrail) dinyanyikan oleh Yumi Matsutoya.

Memang disayangkan film ini hanya memasuki nominasi di Academy Award for Best Animated Feature (dimenangkan oleh Frozen) dan Golden Globe Award for Best Foreign Language Film (dimenangkan oleh La grande bellezza). Bagaimanapun juga, harapan para fans Ghibli di Indonesia sudah terkabul, bisa menonton salah satu karyanya di layar lebar meskipun ini juga merupakan perpisahan dari Hayao. Terima kasih banyak Hayao atas karya-karyanya yang luar biasa membuat hidup kita menjadi lebih berwarna... nikmatilah masa tua dengan bahagia.

Angin Bertiup Kencang
Jiro Horikoshi seorang anak kecil yang tinggal di perdesaan selalu mendambakan Giovanni Caproni, ahli aeronautika dari Itali yang telah menciptakan pelbagai pesawat terbang seperti Caproni Ca.1 dan Caproni Campini N.1. Dari awal Jiro memang tak berniat sama sekali menjadi pilot karena dia sudah mengalami rabun muda. Di dalam mimpi-mimpinya Jiro, ia melihat banyak peristiwa aneh tentang pesawat terbang. Tak hanya itu Caproni juga muncul dalam mimpinya dan Jiro berkesempatan pula untuk berbincang-bincang dengan Caproni. "Pesawat bukanlah alat perang, pesawat adalah sesuatu yang mengagumkan yang didamba-dambakan oleh para Insinyur," ucapan Caproni kepada Jiro dalam mimpinya (maaf aku tak begitu ingat secara detil dialog Caproni dan Jiro, tapi kurang lebih begitulah kata-katanya).

Pada tahun 1923, Jiro pergi ke universitas untuk melanjutkan studinya. Namun terdapat gempa bumi berskala besar yang menghantam Kanto. Kereta yang dinaiki Jiro mau tak mau harus berhenti dan para penumpang bergegas untuk segera turun. Bencana lainnya juga menyerang Kanto, kebakaran rumah yang membuat orang-orang semakin panik. "Cepat! Kereta akan segera meledak," teriakan gila dari salah satu penumpang, Jiro yang hendak evakuasi melihat seorang pemudi bernama Nahoko Satomi bersama dengan pembantunya yang mengalami patah tulang di kakinya karena bencana tersebut. Jiro langsung bertindak cepat memberi pertolongan pertama dan mengangkat menolongnya. Nahoko membantu Jiro mengangkat koper bawaannya dengan menghiraukan kopernya sendiri (Nahoko menggangap barang bawaannya tidaklah penting).

4 Tahun setelah insiden tersebut, 1927, Jiro bergabung dengan Perusahaan Rekayasa terbesar di Jepang pada divisi pesawat terbang. Kejeniusannya diakui dan membuat ia tumbuh menjadi desainer pesawat di dunia. Tapi semuanya tentu tak berjalan dengan mulus, apalagi ilmu pengetahuan dan teknologi Jepang cukup terbatas saat itu.

GAINAX Ending / Habibie & Ainun
Cukup engga nyangka kalo ceritanya ternyata dewasa (bukan dalam artian secara rating usia penonton) dan ending-nya bakal begitu, padahal awalnya aku hanya mengira-ngira,"Jangan-jangan endingnya seperti ini" dan ternyata benar (maaf aku menulisnya seperti melantur engga jelas dikarenakan takutnya berujung pada spoiler jadi silahkan menonton sendiri). Kuakui pada awal-awal film cukup membosankan, terlalu banyak adegan yang hanya menggambarkan suasana tempat, seperti mobil lewat, orang-orang yang jalan kesana-kemari dan lain-lain (mungkin ini penyebabnya salah satu penonton keluar). Meskipun kukatakan awalnya cukup membosankan tapi mulai menjelang pertengahan film emosiku benar-benar hanyut terbawa oleh film ini. Dan dikarenakan aku engga membaca sipnosis cerita kukira akan keluar monster, soalnya pada awal-awal penggambaran mimpi dan gempa bumi sangat nyentrik sekali. Sedikit humor yang terdapat dalam film ini dimasukan pada waktu yang tepat untuk menghentikan ketegangan para penonton (dalam artian karena sangat menikmatinya). Meskipun rating penontonnya Semua Umur namun perlu diketahui dalam film ini terlalu banyak adegan merokok, bahkan saat rokoknya habis temannya Jiro me-refill rokoknya yang sudah habis dan dinyalakan kembali lalu bersama dengan orang sakit ia tetap tak bisa berhenti merokok.



Karya terakhir dari Hayao yang kukatakan sangat layak untuk ditonton dan disayangkan sekali kalo melewatkan kesempatan satu ini, Blitz Megaplex sendiri juga hanya menayangkan film ini hingga selasa depan dan beberapa tempat hanya sampai minggu saja (seingatku jadwalnya begitu). Blitz Megaplex menayangkannya dalam subtitle Indonesia dan English jadi jangan sampai bingung dalam membacanya, komentar untuk Blitz lagi aku sempat bertanya-tanya pada suatu dialog tiba-tiba (dalam subtitle Indonesia) Jiro berbicara dengan adiknya menggunakan kata "Anda" padahal sebelumnya tidak ada kata itu (jangan-jangan beberapa teks subtitle langsung diterjemahkan menggunakan Google Translate lagi). Sebenarnya aku juga ingin menonton versi dub English-nya untuk mendengarkan suaranya Emily Blunt dan Joseph Gordon-Levitt, tapi tetap kupikir lebih baik dub Jepang-nya untuk ditayangkan demi penokohan dari Anno.

"Le Cimetière marin"

Pewarnaan yang cantik, alunan musik yang indah serta kepuasan dan kenikmatan semua didapat dalam film ini. Tontonlah animasi ini di bioskop terdekatmu sebelum terlambat. Untuk yang penasaran dengan lagu penutupnya bisa mendengarkannya disini yang telah di-cover oleh Goose house (saat ini aku sedang mendengarkannya untuk mengenang juga). Wah, entah kenapa jadi engga sabar juga untuk musim gugur untuk melihat serial animasi pertama kali dari Ghibli yang berjudul Ronia The Robber’s Daughter yang digarap oleh anaknya Hayao, Goro Miyazaki... semoga Goro bisa sehebat ayahnya juga deh.
Read more ... → The Wind Rises

March 9, 2014

From Up on Poppy Hill

Pada tanggal 13 Maret 2014 nanti, Blitz Megaplex akan menayangkan Kaze Tachinu (atau The Wind Rises dalam english) yang merupakan karya terakhir dari Hayao Miyazaki (dan ada Hideaki Anno sebagai seiyuu-nya lho). Berita tersebut sangat membuatku senang dan tak sabar segera menontonnya di bioskop terdekat, dan efek lain dari ini adalah tiba-tiba aku ingin menonton lagi karya-karyanya dari Hayao Miyazaki.

From Up on Poppy Hill (コクリコ坂から; Kokuriko-Zaka kara) diangkat dari manga yang berjudul sama ditulis oleh Sayama Tetsuro dan digambarkan Takahashi Chizuru, diterbitkan oleh Kadokawa Shoten pada tahun 1980, lalu pada 1981 diterbitkan oleh Nakayoshi (Kodansha). Pada 2011 lalu, Studio Ghibli mengadaptasikannya menjadi sebuah layar lebar yang disutradarai oleh Goro Miyazaki dan diproduser oleh Toshio Suzuki (Ghost in the Shell 2: Innocence, On Your Mark, The Cat Returns dan Kiki's Delivery Service), sedangkan Hayao Miyazaki mengurus bagian screenplay dengan Keiko Niwa (Arrietty, Ocean Waves dan Tales from Earthsea).

Kibarkan Bendera
"Raise your flag"

Umi Matsuzaka tiap hari selalu mengibarkan isyarat benderanya di tepi rumah dengan berharap pada suatu hari nanti akan ada yang membalas isyarat bendera, entah itu berita tentang bapaknya atau bapaknya pulang kerumah, karena ia telah menghilang sejak Perang Korea (tepatnya bapaknya meninggal, akan tetapi Umi tetap mengibarkan bendera isyarat tersebut sebagai salah bentuk lain penghormatan kepada bapaknya).

Konan Academy, dimana tempat Umi bersekolah ia mendapatkan sebuah berita dari selembaran kertas yang berisi puisi yang ditunjukkan pada gadis yang selalu mengibarkan bendera tiap pagi. Ditengah ramainya istirahat yang waktunya untuk makan ada keramaian lainnya, tiba-tiba keluar dari gedung dan menunjukan aksi untuk menentang agar bangunan ekstrakurikuler tidak dirobohkan. Tidak tanggung-tanggung, untuk menunjukan aksi itu bukan main-main, salah satu murid, Shun Kazama, anggota ekskul surat kabar terjun dengan riang dari atas atap gedung ke sebuah kolam (yah jatuhnya tidak berjalan dengan mulus, ia sempat tertubruk beberapa rating pohon dulu sebelum sempat ke kolam). Umi yang kebetulan berada di dekat kolam secara reflek bergerak untuk menolong Shun.

Esoknya, Sora Matsuzaka, adiknya Umi minta tolong padanya untuk menemani ia ke gedung ekskul agar Sora bisa minta tanda tangan ke Shun (karena Sora sudah membeli foto Shun seharga 30 yen dan ia pikir itu hal yang mengagumkan apa yang telah Shun perbuat kemarin). Umi yang menemani Sora untuk menemui Shun tiba-tiba dimintai tolong oleh Shirou Mizunuma untuk ikut membantu menuliskan prakiraan ujian tengah semester fisika pada surat kabar, yang disebabkan mereka sedang sibuk juga dengan aksi protesnya agar gedung ekskul tetap ada dan tangan Shun sedang terluka karena suatu hal.

Singkat cerita, seiring dengan berjalannya waktu persahabatan Shun dan Umi menjadi lebih kuat dan mereka saling percaya satu sama lain hingga Umi menunjukan beberapa foto masa lalu ayahnya ke Shun pada pesta yang diadakan ditempatnya Umi. Shun amat terkejut dengan hal tersebut karena, ia juga mempunyai foto yang sama dan terduga bahwa mereka sebenarnya bersaudara karena memiliki ayah yang sama.

1963
Alunan musik yang indah dan latar serta animasi yang WOW (seperti biasanya), para penonton benar-benar merasakan seperti berada di kota dan waktu tersebut, terlebih lagi gerakan para tokohnya sangat manusiawi. "Nostalgia ya," adalah kalimat pertama yang ingin aku katakan tapi aku juga tidak bisa mengatakannya dengan pasti karena aku saja lahir puluhan tahun sejak perang korea. Cerita dimana ada pertemuan yang membuat mereka menjadi dekat dan saling jatuh cinta, Umi ikut terlibat dalam gerakan protes dan membantu Shun dan yang lainnya memberikan sebuah ide dan cara agar bangunan tersebut tidak dirobohkan. Telinga dan Mata kita benar-benar dimanjakan dan kekompakan sebuah keluarga juga dapat dirasakan.

Teks Tambahan
Yap, dalam English Dub terdapat beberapa dialog tambahan dan/atau perubahan dalam adegannya, seperti misalnya terdapat Narator dipermulaan (sama seperti Kiki's Delivery Service terdapat dialog tapi itu tidaklah masalah, soalnya Pretty Cure (2004) juga ada dialog tambahan di endingnya). Bukan hal yang mengejutkan karena tampaknya tiap negara pasti akan (mencoba) mencocokkan dialog dengan adegan dan sebuah kalimat tidak bisa selalu diterjemahkan ke dalam kalimat yang sama, jadi ya wajar saja kalo ada perubahan. Dan Aoi Teshima menyanyikan lagu pembuka dan penutup disini.

Twist
Ketika fakta berkata bahwa Shun dan Umi memiliki ayah yang sama ini benar-benar membuat para penonton untuk menduga-duga apa yang akan terjadi nantinya dan bagaimanakah fakta yang sesungguhnya akan terkuak. Kalo memang benar bagimana dengan kisah percintaan mereka, apakah mereka akan tetap menjalani cinta terlarangnya dan akan kawin lari, dan aku terbawa dengan situasi seperti itu.



Akhirnya aku hanya minta maaf yang telah membaca tulisan ini karena aku tidak bisa membuat sebuah ulasan yang baik, sebenarnya aku juga bingung apa yang akan dikomentari tentang kartun ini paling aku hanya "Sudahlah tonton saja! Ghibli ini... tidak akan menguras waktumu dengan sia-sia," kataku dalam hati. Saat Shun mengatakan "It's like a cheap melodrama" itu sangat membuatku makin penasaran apa akan terjadi. Aku suka dengan english dub-nya dan sekian kalinya yang tak pernah kuhitung, Ghibli berhasil membuatku enjoy dan terbawa suasana.
Read more ... → From Up on Poppy Hill
 

Autumn 2015 Anime Chart

【Autumn 2015 Anime Chart】
For other info, click here.
For its hashtags, click here.

Featured Video


Random Posts