Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

January 1, 2019

I want to eat your pancreas (movie)

Bermula dari sebuah web novel yang beredar pada tahun 2014, karya dari Sumino Yoru sukses besar hingga di 2015 tulisannya mendapatkan versi cetak. Tidak berhenti disitu, kesuksesan I want to eat your pancreas (君の膵臓をたべたい; Kimi no Suizou wo Tabetai) mampu membuahkan adaptasi komik sebanyak dua jilid yang terbit 2016 hingga 2017 terjual sebanyak 580.000 kopi. Di 2017 live-action mulai tayang di layar lebar berhasil meraup keuntungan 33 juta dollar amerika. Mungkin sebagian dari kalian sudah tahu sekali dengan ketenaran karya ini, entah membaca novelnya (yang sudah diterbitkan lokal oleh Penerbit Haru), membaca komiknya, menonton live action-nya di layanan pesawat terbang atau di Pekan Sinema Jepang 2018 (Japan Cinema Week 2018) yang beredar 3 minggu yang lalu, atau mungkin kalian mengikuti semua versinya?


I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

Untuk versi kartunnya sendiri, I want to eat your pancreas digarap oleh Aniplex yang disutradarai oleh Ushijima Shin'ichirou (Hunter × Hunter 2011 dan One Punch Man) yang sekaligus merangkap sebagai penulis naskah, dan Hata Shouji (Hal, Spiral, Air: The Movie, Rolling Girls, ReLIFE, dan Fairy Tail) sebagai sound director. Untuk pengisi suara pemeran utama perempuan diserahkan pada Lynn (Demi-chan wa Kataritai sebagai Takanashi Himari,  Keijo!!!!!!!! sebagai Kaminashi Nozomi dan Just Because! sebagai Komiya Ena) sedangkan pengisi suara pemeran utama laki-laki Takasugi Mahiro (Kamen Rider Gaim sebagai Mitsuzane Kureshima/Kamen Rider Ryugen, Rainbow Days sebagai Naoe Tsuyoshi, dan ReLIFE sebagai Ouga Kazuomi) yang merupakan pekerjaan pertama dia sebagai pengisi suara.

I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

Hidup Dengan Penyakitmu
Ini semua bermula pada April, dimana bunga sakura bermekaran. Aku yang sedang menunggu antrian di rumah sakit menemukan sebuah buku kecil. Aku yang memiliki kegemaran membaca buku tentu saja penasaran dengan isi buku ini. Aku melihat sekelilingku untuk memastikan pemilik buku ini ada disekitar. Tapi setelah kulihat, sepertinya tidak ada yang merasa mempunyai buku ini. Kubuka perlahan, buku ini ternyata sebuah diari. Diari tentang penyakitnya... dan dia akan mati karenanya. Saat aku mulai terkejut membacanya, pemilik buku ini datang, dan dia adalah Yamauchi Sakura, teman sekelasku. Aku yang kurang mengenal baik tentang dia berusaha bersikap tak acuh.

I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

Namun anehnya semenjak kejadian itu dia terus menempeli diriku. Bahkan yang lebih aneh lagi adalah ia sama sekali tidak tampak seperti orang sakit. Ia mengatakan bahwa hal tersebut (penyakit yang dialaminya) akan menjadi rahasia mereka berdua. Aku sendiri pun tidak memiliki niatan sama sekali untuk menceritakan kepada siapa pun. Perempuan ini benar-benar aneh, katanya dia ingin menghabiskan sisa usianya bermain bersamaku. Padahal awalnya kukira ia akan segera bosan dengan diriku.

I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

Ketimbang menghabiskan hari-harinya dengan melakukan sesuatu yang belum tercapai, seperti berkunjung ke tempat yang belum pernah didatangi, mencari cinta sejati atau apapun, dia malah memilih untuk menjalani kehidupan biasa-biasa saja untuk mencari kebahagiaan.

Dia terus saja menggangguku, mengusikku, seenaknya sendiri. Benar-benar merepotkan! aku yang tak punya pilihan dan tidak memiliki kegiatan apa pun dibuat untuk mengikuti terus keinginan dia. Menarik juga mengenal seseorang seperti dia

I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

Hubungan Spesial
Takdir mempertemukan dua orang yang saling memiliki kepribadian sangat bertolak belakang, sang laki-laki penyendiri pemurung sang perempuan hiperaktif periang. Walau sang laki-laki selalu terlihat enggan tapi sang perempuan ini dengan ajaibnya selalu berhasil membuat sang laki-laki mengikuti dirinya. Hubungan mereka terbangun secara perlahan-lahan, hingga sang laki-laki tidak menyadari perubahan yang dialaminya, ia mulai (bisa) mempedulikan sekelilingnya. Lambat laun ia mulai mengkhawatirkan sang perempuan, apa yang sedang terjadi dengannya, mengapa sifatnya mulai berubah sedikit, apa yang disembunyikan dibalik senyumannya yang hangat, apakah kehadirannya mengganggu teman-teman dia, ada apa dengannya?

Sang laki-laki menyadari selama ini dia diselimuti oleh perasaan takut dan tanggung jawab. Ia takut kehilangan, ia juga bertanggung jawab agar Sakura menjalani hidup dengan penuh. Hanya dialah yang tahu rahasianya, dan rahasia itu milik mereka berdua.

Hubungan mereka terikat spesial, tidak bisa disebut sebagai teman, dan mereka berdua tidak sedang berpacaran. Keduanya tak menaruh perasaan romantis. Hubungan mereka lebih dari itu, sulit untuk didefinisikan.

Kehadiran Sakura menginspirasikan banyak hal untuk kehidupannya. Sedangkan ia merasa dirinya tak beguna, tidak bisa berbuat apa-apa untuk kehidupan Sakura. Tapi rekaan pikiran tersebut salahlah besar. Sang perempuan juga mendapatkan banyak inspirasi dari sosok laki-laki. Sang laki-laki meski tak sadar ia sangat memedulikan Sakura, menolong Sakura. Sakura seringkali dikejutkan oleh sikap-sikapnya yang sama sekali tidak terduga. Sakura tidak salah memilih orang untuk menemani disisinya.

Seiyuu Buruk
Walau tampak memiliki tema yang biasa saja, laki-laki yang sangat cuek (yang bisa lumayan sering dilihat di romance shoujo) perempuan aktif, ada tokoh yang tidak mempunyai hidup panjang, lalu keduanya saling melengkapi menghabiskan waktu bersama tapi I want to eat your pancreas mampu membangun kisah mereka secara epic, kisah mereka nampak heartwarming sekaligus tearjerking. Permainan BGM dan alunan lagu yang dibawakan Sumika perfect sekali membawa perasaan penonton tenggelam di acara ini. Acara ini menampilkan warna-warna indah, misalnya ketika mereka melihat kembang api bersama (mewujudkan wishlist-nya) dan sang laki-laki yang bertukar pikiran dengan sang perempuan saat membaca diarinya. Ketimbang memakai background bergradien (putih) terang atau gelap, tapi disini menggambarkan sosok dunia Sakura dengan memilih warna pastel dan memakai gaun one piece berwarna hijau yang melambangkan sifat Sakura, hidup riang.

I want to eat your pancreas terlihat sangat memanjakan dari segi animasi, musik dan cerita tapi dengan sayang sekali tidak bisa dikemas secara sempurna karena sifat dan aura sang laki-laki disini dibuat sangat murung datar. Terlebih lagi pembawaan dari Takasugi Mahiro terdengar tidak maksimal, sang laki-laki dibuat menjadi tidak bersemangat sama sekali dan expressionless banget. Meski sang laki-laki sedang depresi dan putus asa setelah melakukan kesalahan besar yang diperbuatnya, tapi terdengar sama saja seperti dia sedang melakukan hal lain. Padahal lawan mainnya, Lynn, dengan lincahnya mampu membawa perasaan-perasan Sakura dengan indahnya (ketika sedang riang, bersedih, memikirkan sesuatu dan lain-lain).

I want to eat your pancreas – Kimi no Suizou wo Tabetai

Kupikir I want to eat your pancreas adalah salah satu movie yang tepat untuk menutup tahun 2018. Aku sempat menonton ini pada hari minggu lalu bersama teman-temanku dilayar lebar, dan ketika aku hampir saja mencucurkan air mata temanku langsung mengingatkanku. I want to eat your pancreas adalah movie yang bisa dinikmati oleh kalangan remaja keatas dan asik untuk ditonton saat sedang sendiri atau pun sedang bersama teman-teman atau pun pacar.

Terakhir aku mengucapkan selamat tahun baru untuk kalian semua, semoga tahun ini bisa menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan semoga kalian bisa melaksanakan dan mencapai sesuatu yang belum pernah kalian lakukan sebelumnya.
Read more ... → I want to eat your pancreas (movie)

January 22, 2018

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom?

Pernahkah kalian berpikir untuk mengulang suatu kejadian yang paling sesali?


Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?)

Sejak awal melihat judul ini yang pertama melintas dipikiranku adalah,"Penting sekali kah? Bukannya kembang api sama-sama indah mau dilihat dari sudut mana pun? Lalu dimana masalahnya?" Masalahnya bukan mesti dilihat darimana, saat caption-nya bertuliskan,"Seandainya aku bisa mengulang hari itu..." pasti ada sesuatu yang besar terjadi.

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (打ち上げ花火、下から見るか? 横から見るか?; Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?) awalnya merupakan sebuah live-action di tahun 1993 yang ditulis dan disutradarai oleh Shunji Iwai. Di filmnya tersebut ia meraih penghargaan Sutradara Baru Terbaik di Directors Guild of Japan New Directors Award.

Di tahun 2017 SHAFT mengangkat FTV jadul ini menjadi sebuah movie animasi yang diisi oleh bintang ternama: Hirose Suzu (Bakemono no Ko, Chihayafuru Live Action, Shigatsu wa Kimi no Uso Live Action) dan Suda Masaki (Kamen Rider W, Princess Jellyfish, Hidamari No Kanojo). Hitoshi Ohne sebagai screenplay writer mengubah sedikit komposisi di Fireworks agar sesuai dengan jaman sekarang. Takeuchi Nobuyuki (Shoujo Kakumei Utena: Adolescence Mokushiroku, Mawaru Penguindrum, Sakura Tsuushin) bertanggung jawab untuk mengarahkan Fireworks yang dikepalai oleh Shinbou Akiyuki (Bakemonogatari series, Arakawa Under the Bridge, Dance in the Vampire Bund) dan diawasi oleh Kawamura Genki (Ookami Kodomo no Ame to Yuki, Kimi no Na wa., Bakemono no Ko) sebagai produser.

Tantrum
Musim panas, kemeja lengan pendek, remaja SMA. Siapa yang tahan untuk diam saja ketika teriknya sinar matahari menyinari para remaja. Shimada Norimichi memulai kecerian paginya dengan berangkat kesekolah berramai-ramai bersama Azumi Yuusuke dan teman-temannya. Dalam perjalanannya yang seru Norimichi bertukar pandangan dengan Oikawa Nazuna, gadis yang ditaksir tengah merenungi diri di pinggir pantai.

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?)

Lamunan Nazuna teralihkan saat ia mengambil bola kaca yang indah di dalam air laut.

Sebelum kelas dimulai, Norimichi diam-diam mencuri pandangan ke Nazuna. Teman dekatnya, Yuusuke, tiba-tiba mendekati Norimichi dan mengatakan ia akan menembak Nazuna, sembari ia membayangkan dirinya menghabiskan waktu bersama melihat kembang api yang akan diadakan nanti malam. Tapi sifatnya yang nyebelin, ia tak sanggup untuk menembaknya karena takut ditolak juga.

Di tengah siang bolong Norimichi dan Yuusuke bertugas untuk membersihkan kolam renang melihat Nazuna di pinggir kolam. Sebab Yuusuke yang bodoh (tak tahan melihat Nazuna dalam pakaian renang hingga ia langsung kebelet pergi ke toilet) memberi kesempatan untuk Norimichi membersihkan kolam sendirian dan mengajak ngobrol Nazuna. Norimichi menyadari bola kaca yang dimiliki Nazuna. Ia pun menanyakan benda apa itu, tapi Nazuna sendiri pun tidak mengetahui persis. Nazuna menyukainya bola kaca tersebut karena keindahannya.

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?)


Yuusuke yang telah kembali dari toilet segera mengajak Norimichi lomba renang 50 meter untuk bertaruh suatu hal. Yuusuke mengatakan apabila ia menang ia akan menembak Nazuna (entah ia mengatakan karena benar menyukainya atau hanya ingin menggoda Norimichi). Nazuna yang melihat mereka berdua ikut mencalonkan diri untuk bermain bersama dalam pertaruhan mereka. Siapa yang kalah, mereka harus mendengarkan yang menang.

Sejak pagi tadi Norimichi tak bisa melepaskan pandangannya sedikitpun dari Nazuna. Konsentrasinya yang terganggu membuat ia celaka dalam melakukan flip turn. Perlombaan dimenangkan oleh Nazuna, lalu Yuusuke dan terakhir Norimichi berada di posisi akhir karena kakinya yang cedera. Selagi Norimichi beristirahat menahan rasa sakit kakinya, Nazuna dengan nada datar mengajak Yuusuke untuk menonton kembang api bersama dan mengatakan (dengan entengnya) bahwa ia menyukainya. Nazuna akan menunggu dirumah Yuusuka pada jam 5 sore nanti.

Seusai perlombaan, Norimichi dan Yuusuke kembali ke kelas melihat perseteruan teman-teman. Mereka berdebat akan bentuk kembang api sebenarnya itu datar atau bulat. Walau jawabannya sudah jelas, tapi mereka tetep menjawab bentuk kembang api itu datar untuk mengusili temannya yang berkacamata. Mereka berasumsi kembang api itu terbukti datar kalau dilihat dari samping. Nah lalu bagaimana caranya agar mereka bisa sejajar dengan kembang api (melihatnya dari samping)? Mudah saja, jawabnya si kacamata, mereka akan melihatnya dari mercusuar. Si kacamata pun mengajak mereka semua untuk ikut melihat kembang api dari samping dan mereka akan berkumpul pada jam 5 sore.

Yuusuke yang senggang dengan seenaknya main kerumah Norimichi untuk menghabiskan waktu hingga jam 5 sore. Norimichi kembali bertanya, bagaimana kalo seandainya bentuk kembang api itu datar?  (Lalu mereka mencontohkannya dengan menggunakan kipas bergambarkan kembang api)

Melihat kakinya Norimichi yang terluka, Yuusuke menyuruhnya untuk kerumah sakit dan minta untuk diperiksakan oleh ayahnya. Dan ia juga menitipkan pesan kalau ada Nazuna katakan bahwa ia tak bisa datang dan pergi bersamanya. Lah bukankah ia menyukai Nazuna? Namun Yuusuke yang sebenarnya pemalu ini menyangkalnya bahwa ia tak pernah menyukainya dan semua itu hanyalah jenaka belaka.

Norimichi melihat Nazuna diam dan menunggunya disana. Meski Nazuna sudah bertanya pada frontdesk kemana Yuusuke, tapi ia tetap menunggu. Nazuna pun bertanya ke Norimichi, apakah Yuuske menunggu dirinya atau tidak. "Ia takkan datang," jawab singkat Norimichi. Nazuna pun langsung keluar.

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?)

Norimichi tak bisa diam saja melihat wajah Nazuna yang memendam banyak kesedihan.
"Kalau aku mengajakmu, apa kamu juga akan pergi meninggalkanku?"
"Dalam perlombaan itu, aku berencana untuk mengajak yang menang. Dan kupikir... kamu yang akan menang. Kenapa kamu kalah?"
Norimichi yang kebingungan menjawab,"Karena kamu sangat cepat, dan aku tidak bisa menandingimu."
"Apa ini salahku?"
"Eh?-" Norimichi yang menyadari Nazuna membawa koper lanjut bertanya,"Untuk apa tas itu?"
"Aku akan kabur dari rumah. Aku akan pergi meninggalkan kota ini."
Norimichi yang terkejut,"Eh, kamu bercanda kan!?"
"Iya aku hanya bercanda."
"Jadi mana yang benar!?"
"Coba tebak saja," jawab Nazuna sambil tersenyum kecil.

"Mengapa kamu bisa kalah...?" tanya Nazuna sekali lagi,"Kamu tak tahu ya, aku berpikir kamu pasti akan menang." dengan raut wajahnya yang dipaksakan tersenyum.

Norimichi terdiam dan melihat Nazuna berbelok di persimpangan jalan.

"NAZUNA!" teriak ibunya Nazuna.

Nazuna berusaha kabur sambil menenteng kopernya memohon kepada Norimichi untuk menyelamatkannya, "Tidak! Aku tak ingin pergi!" teriaknya.

Norimichi yang bingung dan tak tahu harus berbuat apa hanya terdiam saja melihat Ibunya Nazuna menarik Nazuna.
Teman-teman sekelasnya melihat kengerian ibunya Nazuna dan mereka dengan santainya membicarakannya. Norimichi yang kesal melihat Yuusuke tertawa memukulnya.
Mengapa ia tertawa? Seharusnya kamu tepati janji sehingga Nazuna tak perlu menitikkan air mata seperti itu!

Norimichi melihat seisi koper Nazuna dan mengambil bola kaca yang selalu dipegang Nazuna sepanjang pagi ini.

"Brengsek! Seandainya aku menang-" Norimichi yang kekesalannya memuncak melempar bola kaca tersebut kearah Yuusuke. Ketika bola kaca tersebut menyentuh papan pegumuman, bola tersebut bersinar terang dan keinginan Norimichi terwujud. Ia mengulang pagi ini saat perlombaan renang mereka terjadi.

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?)

Bumi Biru
Aku semakin fokus ketika Nazuna menyanyi di kereta, Ruriiro no Chikyuu. Bagaimana aku tidak mengenalnya, ini lagu sangat populer di eranya dan aku mengenalnya dari Hayley Westenra dan Aoi Teshima. Tanpa sadar aku ikut sedikit ber-humming ketika Nazuna menyanyikan lagu ini. Lagu ini dialunkan oleh Seiko Matsuda pada tahun 1986 yang kemudian kepopuleran lagu ini menjadi sebuah lagu paduan suara. Lagu memiliki makna bahwa kita umat manusia bertanggung jawab harus menjaga kelestarian bumi.

Framework
Di dalam movie ini akan terlihat beberapa style ala SHAFT yang biasa mereka gunakan. Entah aku doang atau bukan, Oikawa Nazuna sangat terlihat mirip dengan Senjougahara Hitagi di Bakemonogatari, hanya saja rambutnya diubah jadi panjang bergelombang. Dan aku cukup wah ketika melihat macam-macam 'bentuk' kembang api terlukiskan di animasi ini.

Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom? (Uchiage Hanabi, Shita Kara Miru ka? Yoko Kara Miru ka?)

Kelabilan Remaja
Cerita yang disajikan Fireworks mefokuskan pada permasalahan yang dialami Nazuna dan Norimichi yang selalu ingin bersama Nazuna. Nazuna yang muak dengan masalah yang dialami (dalam keluarganya) memutuskan dia untuk memilih kabur dari rumahnya, lari dari kenyataan, ketimbang untuk mencoba menyelesaikan masalah dengan wajar.

Sedangkan Norimichi yang sangat menyukai Nazuna, ingin bisa menyelamatkannya dari situasi yang dihadapi oleh Nazuna, bagai seorang pangeran yang menolong sang putri. Aksinya Norimichi terbukti dengan ia terus 'menuruti permintaan' Nazuna untuk pergi dari kota tersebut. Yang bisa ditebak sendiri kelanjutan cerita movie ini, Norimichi akan terus mengulang hari sesuka hati hingga Ia dan Nazuna tak menyesal dengan kejadian pagi ini, mengulangi hingga mereka puas dan tak melakukan kesalahan sedikitpun (tertangkap oleh orangtua Nazuna dan berhasil pergi dari kota itu).

Norimichi yang polos, tak memikirkan sama sekali efek bila ia ikut kabur juga (bagaimana dengan keluarganya, sekolahnya dan hal lain-lain, seakan-akan tak ada masalah yang akan timbul di masa mendatang nantinya), terus berusaha berjuang untuk selalu disamping Nazuna, menemani dan melindungi pujaan hatinya.


Aku sebenarnya sebelum menonton ini cukup ragu karena teman-temanku sudah menonton lebih dahulu, semua temanku kompak: "Filmnya jelek bro." Ucapan mereka semua membuatku berpikir berkali-kali untuk tetap menonton atau tidak. Pada akhirnya aku tetap nekat memutuskan untuk menonton, tak peduli apa kata mereka. Dan menurutku, movie ini lumayan juga lho! Tak terlalu buruk!

Yah walau saat terjadi time looping agak mulai membosankan, sudut serupa hanya ekspresi berubah. Namun aku sangat menyukai ketika Norimichi pertama kali berusaha kabur bersama Nazuna.

"Kemana kita akan pergi?"
"Tidak tahu!"
Nazuna instant tertawa saat mendengar respon Norimichi.

Ya, mereka berdua hanyalah remaja labil, langsung bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Mereka hanya ingin pergi, kabur, lenyap tanpa pusing memikirkan apa yang terjadi di depan.

Sayangnya di movie ini terdapat lumayan banyak joke-joke nanggung dan tidak lucu yang menurutku lebih baik dibuang digantikan dengan pengembangan cerita mereka untuk kabur. Karena joke-nya sama sekali tak lucu dan tak berpengaruh apa-apa dengan cerita.

Entah mengapa banyak yang mengira atau beranggapan bahwa movie ini adalah romance, tapi kenyataannya sepanjang movie ini hampir tak ada romance sedikitpun yang dicolek dalam kelangsungan cerita. Perasaan Nazuna ke Norimichi abu-abu, samar tak jelas dan mengambang apa ia benar-benar menyukainya atau hanya karena kebetulan ada dia jadi dialah yang terpilih.

Cerita utama Fireworks fokus pada drama Norimichi yang merespon keinginan Nazuna untuk kabur pergi meninggalkan keluarga dan kota di pinggir pantai. Sekali lagi, Norimichi yang polos hanya ingin membuat pujaan hatinya senang. Aku tegas mengatakan bahwa ini bukan movie romance, hanya movie drama! Bila ingin melihat drama bolehlah, tapi bila berharap pada romance, apalagi fantasy (time looping), aku tak bisa rekomen... dan mungkin kalian salah mengambil movie juga.

Ngomong-ngomong bila kalian bertanya apa hubungannya kembang api dengan time looping, aku akan menjawab bentuk dari kembang api yang meletus merupakan pencapaian dari wujud pengulangan hari yang dilakukan oleh Norimichi. Atau bentuk kembang api tersebut adalah wujud dari harapan Norimichi.
Read more ... → Fireworks, Should We See it from the Side or the Bottom?

November 23, 2017

FATE/KALEID Liner Prisma☆Illya: The Vow In The Snow

Ketika aku menonton trailer-nya aku cukup bingung sih. Mengapa Emiya Shirou yang selama 3 season ini hanyalah figuran, maaf maksudku karakter pendukung, yang melengkapi humor dan fanservice selama series tersebut mendadak menjadi karakter utama, karakter utama atau karakter kunci di series ini.  Jujur saja aku lumayan tidak mengerti transisi cerita Season 2 Part 2 (Fate/kaleid liner Prisma☆Illya 2wei Herz!) ke Season 3 (Fate/kaleid liner Prisma☆Illya 3rei!!).

Terlebih lagi aku tidak membaca manga-nya dan hanya mengikuti series Fate yang Prisma☆Illya saja dikarenakan series ini merupakan spin-off (ngomong-ngomong dulu aku menonton series ini juga karena iseng dan berpikiran bahwa spin-off tidak memerlukan koneksi/mengerti dahulu series utamanya).

Fate/kaleid liner Prisma☆Illya The Vow in The Snow ( 劇場版Fate/kaleid liner プリズマ☆イリヤ 雪下の誓い; Gekijouban Fate/kaleid liner Prisma☆Illya: Sekka no Chikai) atau diluar sana lebih dikenal Fate/kaleid liner Prisma☆Illya: Oath Under Snow adalah sequel dari Season 3 Part 1 (Fate/kaleid liner Prisma☆Illya 3rei!!) yang menjadikan penghubung ke cerita pertama, yaitu Season 1 Part 1 (Fate/kaleid liner Prisma☆Illya). Di movie ini Oonuma Shin (ef series, Baka to Test to Shoukanjuu, Watashi ga Motenai no wa Dou Kangaetemo Omaera ga Warui!) kembali turun tangan untuk mengarahkan dan memproduksi film SILVER LINK. Prisma Illya.


Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Harapan Manusia
Emiya Kiritsugu adalah seorang pria tua yang memiliki ambisi untuk menyelamatkan umat manusia di seluruh muka bumi. Ia berserta Emiya Shirou, kerabat yang ia selamatkan, berencana untuk ke Fuyuki dimana anak dewa lahir dan dibesarkan oleh keluarga Sakatsuki. Konon anak dewa ini memiliki kemampuan untuk mengabulkan permintaan manusia, apa pun itu permintaannya.

Saat hampir mencapai kota tersebut, sedang terjadi bencana misterius, badai hitam melanda dan memusnahkan seisi kota. Dari wujud bencananya, ini bukanlah hal yang natural melainkan ini terjadi karena perbuatan mistis seseorang. Meski lokasi yang mereka tuju sulit dijangkau dengan kondisi aneh begini, mereka tetap memutuskan untuk kesana dan mengambil anak dewa.

Dengan tubuh kecil Shirou, ia berhasil memasuki kota tersebut tanpa disadari orang lain (pihak keamanan evakuasi). Shirou terus berlari hingga sampai di pusat terjadinya badai, dan menemukan anak dewa.

Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Ketika mereka berdua saling bertukar pandangan rumah yang ia tinggali, rumahnya hendak hancur. Shirou sangat sadar, sekuat apa pun ia berlari, sekuat apa pun ia berusaha untuk menyelamat anak perempuan ia takkan pernah berhasil mencapainya. Ajaibnya tiba-tiba keadaan sekitar berhenti total membuat ia berhasil menyelamatkannya. Disaat itulah Shirou sadar bahwa permintaannya telah dikabulkan.

Sayagnya baik Shirou maupun Kiritsugu tak tahu bagaimana caranya agar bisa 'menggunakan' anak dewa untuk menjalankan misinya. Yang Kiritsugu tahu hanyalah ketika anak dewa sudah berusia 7 tahun maka kekuatannya akan hilang dan menjadi manusia biasa seutuhnya.

Selagi mencari tahu Kiritsugu meng-'adopsi' dan menjadikan Emiya Miyu sebagai bagian 'keluarga' mereka. Usia Shirou dan Miyu yang tidak jauh dan berkat keakrabkan Shirou, mereka berdua menjadi adik-kakak dalam waktu singkat.

Akan tetapi Kiritsugu yang jatuh dalam jerat ambisi, mengekang Shirou untuk memberi perhatian lebih. Ambisinya membuat ia buta dan lupa, bahwa Miyu jugalah seorang manusia dan hanya anak perempuan. Sedangkan dari Shirou sendiri, ia tak bisa melakukan begitu, ia sudah menganggap Miyu sebagai adiknya dan telah memanusiakannya.

Hingga akhir nafas Kiritsugu, ia tetap tak menemukan cara untuk menggunakan Miyu mengabulkan permintaannya. Shirou dan Miyu yang masih tinggal Fuyuki tak menyadari bahwa ancaman besar akan menimpanya.

Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Kasih Sayang Seorang Ibu
Pendapatku adalah bagian battle yang intens hanya dua kali, saat Shirou mengumpulkan semua kartu Servant sisanya hanya terlihat sebagai figuran saja, sama sekali tidak ada omongan apa pun tentang pemegang kartu servant lain, benar-benar tidak ada background story untuk mereka (suatu hal yang bagus cukup fokus ke satu tujuan saja, tapi entah mengapa aku menginginkan sedikit ada bacotan dari para figuran ini biar sedikit terlihat seperti villain dari genre-genre shounen).

Dan aku sangat gatal sekali saat melihat adegan menuju final battle, yang dipertengahan cerita, Julian Ainsworth, salah satu musuh utama di universe/cerita ini awalnya mati-matian dan bertekad keras mencegah perbuatan Shirou. Tapi saat mendengarkan penjelasan Shirou tentang kelahiran dan kemampuan Miyu, dengan mudahnya Julian diam saja memberi jalan Shirou untuk menyelamatkan adik tercintanya. Singkat kata... kekuatan dakwah Shirou berhasil menyadarkan Julian?

Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Terakhir, aku heran mengapa pratayang-poster yang beredar adalah Illya dan tiket movienya sendiri adalah Chloe. Padahal sepanjang cerita fokus mengisahkan Shirou dan Miyu. Bahkan sinopsis movie yang dituliskan sama sekali tak menceritakan movie ini.

Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Fate/kaleid liner Prisma Illya: Oath Under Snow — Fate/Kaleid Liner Prisma Illya: The Vow In The Snow — Fate/kaleid liner Prisma☆Illya Movie: Sekka no Chikai

Read more ... → FATE/KALEID Liner Prisma☆Illya: The Vow In The Snow

August 31, 2017

Napping Princess (Ancien and the Magic Tablet)

Kupikir-pikir lagi tahun ini benar-benar banyak sekali anime movie yang tancap di Indonesia, dan banyak juga yang kutonton. Dengan nekadnya aku menonton ini tanpa membaca sinopsis sedikitpun dan dengan nekadnya lagi aku marathonin dengan Princess Mononoke yang ada hanya di satu jam tayang saja. Alhasilnya buruk sekali, sudah datang terlambat 6 menitan di Mononoke, lalu keluar lebih awal 15 menitan juga dengan pedenya aku berpikir tidak akan masalah telat 3-5 menit di film selanjutnya. Ternyata aku baru sadar bahwa kalo film anime tayang ontime, tidak akan ada banyak iklan atau pun trailer film kedepannya sehingga aku telat lagi.

Napping Princess: The Story of the Unknown Me (ひるね姫~知らないワタシの物語~; Hirune Hime: Shiranai Watashi no Monogatari) yang berjudul asli Ancien and the Magic Tablet adalah hasil garapan dari Signal. MD yang tahun lalu mengeluarkan seri terbaru Cyborg 009: Call of Justice 1. Movie ini diarahkan oleh Kenji Kamiyama (Ghost in the Shell series, Eden of the East series dan Cyborg 009 series) yang memiliki banyak pengalaman di Production I.G, pemeran utamanya disuarai oleh artis muda Mitsuki Takahata (berpengalaman sudah memerankan di live action Ao Haru Ride dan Evergreen Love) dan Yoshiki Sakurai memproduserinya.

Movie ini menyajikan sudut pandang dan arahan yang tak biasa, yang jarang ditemui, mudahnya mirip seperti Aura: Maryuuin Kouga Saigo no Tatakai-lah. Jadi jangan pusing-pusing melihat suasana atau keadaan sekitar yang berubah-rubah.


Napping Princess (Ancien and the Magic Tablet)

Kantuk Tiada Tahan
Tahun 2020, tiga hari sebelum pembukaan Olimpiade Tokyo, Kokone Morikawa sebagai siswi kelas disibukkan dengan pelajaran untuk tes perguruan tinggi. Seharusnya sih ia belajar dengan sungguh-sungguh tapi apa daya, belakangan ini ia malah sering mengantuk tanpa sebab yang diketahui.

Begitu tertidur, ia bermimpi hal yang aneh nan ajaib. Kokone tersadar sebagai Ancien, seorang putri yang tinggal di kerajaan yang dipenuhi oleh mesin-mesin. Ketika Ancien memegang tab pemberian raja alias ayahnya, ia bisa membuat benda mati menjadi hidup bernyawa dengan mengetik keinginannya di tab tersebut. Melihat sihir dari Ancien yang ajaib ini sang penasihat kerajaan memiliki pandangan lain pada Ancien. Ia menganggap benda-benda yang diberi kehidupan oleh Ancien bisa menjadi sebuah ancaman terhadap regulasi kerajaan, keselamatan penduduk atau pun pekerjaan tiap orang. Sehingga dengan berat hati sang raja mengikuti usulan penasihat kerajaan untuk mengkengkang Ancien tinggal di menara khusus dan dijauhkan dari Tab Sihirnya.

Terbangun dengan keadaan super bingung akan mimpinya, Kokone langsung dihadapkan masalah baru. Ayahnya yang pendiam terkena masalah hingga ditangkap polisi. Ia tertuduh atas suatu gugatan. Selagi Kokone yang merasa siyok dengan kabar tersebut, orang yang benar-benar mirip dengan penasihat kerajaan dalam mimpinya masuk kerumahnya tanpa ijin untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagi ayahnya. Padahal Kokone sendiri sama sekali tak mengetahui benda apa yang dirahasiakan oleh ayahnya.

Morio Sawatari yang sedang menghabiskan libur kuliah musim panasnya, ikut terseret dalam permasalahan keluarga Morikawa, ia tak bisa diam saja melihat teman masa kecilnya dihadapi sebuah masalah yang serius dan misterius.

Liburan Musim Panas yang Gaib
Ketika penonton dihadapkan oleh kisah Kokone yang memadukan antara realita dengan mimpinya segalanya terlihat sangat mustahil dan tampak berbagai macam plot hole dimana-mana. Namun dengan seiringnya perkembangan cerita, sesuatu yang tampak plot hole sebelumnya menjadi (lebih) masuk akal. Mimpi yang dialami oleh Kokone mempunyai wujud lain sebagai pemandangan masa depan di kehidupannya. Hal-hal yang terjadi kedepan bisa diprediksi dengan mimpi yang dialami Kokone.

Tapi untuk beberapa scene, ada yang terlihat seperti kenyataan tersebut secara kebetulan terjadi persis seperti mimpi atau sesuatu yang terjadi di dalam realita dan mimpi berjalan bersamaan. Jadi tak selamanya mimpi yang dialami untuk memprediksikan masa depan, mimpinya juga berlaku untuk menjalankan realita yang terjadi saat itu juga. Terlihat konyol, tapi itulah yang terjadi (realita tersebut terbentuk atas dari mimpinya). Salah satunya scene ini terjadi pada saat Morio dan Kokone istirahat di motor setelah melarikan diri.

Napping Princess (Ancien and the Magic Tablet)

Mungkin bagi sebagian orang movie ini biasa saja, tapi entah mengapa bagiku ini seru sekali, ceritanya berjalan tidak membosankan, dan ada sedikit bumbu adegan heartwarming yang membuatku semakin betah menontonnya. Animasinya sih juga kerasaa biasa saja, terutama pepaduan 2D dan 3D ketika Ancien terbang melewati jembatan layang. Petualangan Kokone untuk mengetahui misteri keluarganya diiringi oleh BGM yang syahdu untuk memperkuat dan mempertajam cerita yang berjalan. Aku juga sangat menyukai bibir Kokone dan suara ceria dari Mitsuki Takahara.

Kendaraan cerdas yang sedang dikembangkan oleh ayahnya Kokone sedikit mengingatkanku pada éX-Driver. Dan entah mengapa ketika menonton movie ini aku merasakan feel yang sama dengan Sakasama no Patema padahal dari tema dan ceritanya sangat jauh berbeda.

Ngomong-ngomong jangan langsung keluar ketika film berakhir, karena ada Epilog saat Credit. Sayangnya ditempatku menonton tidak ada suara Ending Song, hanya muncul suara instrument yang menngiringi credit. Dan ketika kubuka YouTube saat ini sungguh aku terkejut ternyata teks subtitle yang muncul saat credit maksudnya adalah subtitle lirik dari ending song movie ini (yang saat itu kukira adalah isi hati dari bapaknya).

Read more ... → Napping Princess (Ancien and the Magic Tablet)

June 19, 2017

In This Corner of the World

Fumiyo Kono sempat menuliskan Yunagi no Machi Sakura no Kun pada tahun 2004 yang mengangkat tema dampak dari pasca perang. Karyanya tersebut memenangkan Japan Media Arts Festival's Grand Prize for manga di tahun 2004 serta Tezuka Osamu Creative Award di 2005. Lalu di 2007 dengan ciri khas gambarnya ia menuliskan In This Corner of the World (この世界の片隅に; Kono Sekai no Katasumi ni) yang menggunakan tema perperangan kebali. Sekali lagi, karyanya satu ini terpilih sebagai Karya yang Direkomendasikan oleh Juri (Juara Harapan?) pada 2008 di ajang Japan Media Arts Festival dan memenangkan Excellence Prize pada tahun 2009. 5 Agustus 2011, In This Corner of the World tayang live-action yang dibintangi oleh Keiko Kitagawa dan Keisuke Koide.


Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Sebagai Peringatan 70 Tahun Bom Hiroshima, animasi In This Corner of The World mulai tayang di layar lebar pada 2016 yang diproduksi oleh MAPPA, distudarai dan ditulis oleh Sunao Katabuchi (Black Lagoon, Princess Arete dan Mai Mai Miracle), desain karakter oleh Hidenori Matsubara (Sakura Taisen series, Aa! Megami-sama! series dan The Princess and the Pilot) dan musik oleh kotringo (Koufuku Graffiti dan Kuma No Gakkou - Jackie to Katie). Tak hanya manga-nya saja yang menyambet penghargaan, namun versi adaptasi ini juga sukses meraih pelbagai penghargaan seperti Hiroshima International Film Festival's Peace Film Award Hiroshima, 40th Japan Academy Prize Animation of the Year, Osaka Cinema Festival 2017 Japanese Film Best10 dan masih banyak lagi.

Bengong Melamun
Suzu Urano, gadis 18 tahun yang yang tinggal di Eba, Kota Hiroshima ini selalu memiliki pandangan positif dalam hidupnya, walau kejadian yang menimpa hidupnya engga selalu enak tapi ia selalu saja bisa mencari jalan positif. Sisi positif miliknya juga dipicu oleh sifatnya yang mudah lupa atau sulit mengingat keadaan sekitar dalam jangka pendek. Kehidupan keluarganya sangatlah damai.

Pada usianya yang menjelang 19 tahun ini ia mendadak dilamar oleh Shuusaku Houjou, seorang pria yang tidak ia kenali, tepatnya ia tidak ingat pernah bertemu atau melihatnya dimana. Neneknya pernah mengatakan semua tergantung pilihan pada Suzu sendiri, ia bisa saja menolaknya bila tak menginginkannya. Setelah memikirkannya cukup matang ia menerima tawaran pria tersebut.


Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Suzu pun memasuki stage baru dalam kehidupannya, tantangan baru muncul bertubi-tubi menghantam dirinya. Sifatnya lugu, sedikit ceroboh dan airhead harus bekerja extra agar dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Perihal saat ini tinggal di Kure yang jauh dari tempat asal, ibu mertua kondisinya saat ini sudah sulit untuk berjalan, kakak ipar yang galak dan keras, mengingat nama-nama tetangga dan jalan, mengubah gaya hidup saat masih gadis dan lain-lain. Suzu yang sudah menjadi ibu rumah tangga ini juga harus bangun lebih pagi, seperti untuk menimba air, menyiapkan makanan dan membereskan rumah.

Hidup pada tahun 1944, jaman perang, membuat keadaan menjadi sulit. Ransum yang terbatas, porsi atau isi pokok lauknya bisa saja berkurang sewaktu-waktu. Hal ini membuat Suzu berpikir bagaimana cara membagi jumlah ransum yang terbatas untuk 1 rumah dan bagaimana mendapatkan dan/atau menambahkan porsi lebih ketika keadaan sangat minim.

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Ketika waktu senggang, Suzu kembali pada hobi lamanya yaitu menggambar alam yang ada di depan matanya. Hobi ini sudah terasah sejak ia kecil hingga membuahkan hasil gambar yang bagus dan indah. Seringkali hobi ini malah menjadi menyulitkan dirinya, pensil yang seharusnya digunakan untuk bersekolah malah dihabiskan untuk menggambar. Suzu yang tinggal di bukit bisa melihat jelas perairan yang dipenuhi oleh kapal-kapal perang seperti Musashi dan Yamato (ia diajarkan oleh keponakannya, yang sebenarnya pernah diajarkan langsung oleh Shuusaku, tapi ia sulit mengingatnya). Ditengah-tengah asyiknya menggambar tiba-tiba ada sepasang polisi yang menggrebeknya dan dicurigai sebagai mata-mata.

Begitu dibawa kerumah, permasalahan ini tak kunjung selesai, bahkan ketika polisi tersebut masih tanya-jawab, mencurigai, menceramahi dan mengancam keluarga Houjou, Suzu malah tak ingat sama sekali tadi ia sedang apa hingga polisi bisa membawa ia kerumahnya.

Meski terlihat damai dan tenang, keluarga Houjou tak lupa bahwa lingkungannya sedang dalam area perang. Suzu dan penduduk warga sekitar diberi bekal ilmu pengetahuan seperti bom, evakuasi, alarm tanda bahaya dan lain-lain dari pihak Angkatan Laut. Keluarga Houjou juga membangun sebuah tunnel evakuasi untuk tempat berlindung apabila ada serangan.

Pada tahun 1945, keadaan mulai memanas, alarm evakuasi yang hampir tiap malam selalu bunyi (kadang hanya alarm bohongan), serangan yang tak mengenal waktu dan tempat, pangan yang semakin sulit didapatkan.

Perlahan Tapi Pasti
Hampir setengah film penonton hanya suasana yang adem kalem, indahnya kehidupan bersama keluarga hingga sampai lupa bahwa keadaan saat itu ditengah-tengahnya panasnya api perperangan. Tak perlu khawatir dengan transisi cerita yang super santai dan rileks hingga menjadi drama serius. Movie ini berhasil membuat alur secara natural dan epik, dengan perlahan-lahan penonton diasupin dengan sulitnya kondisi perang (sedikit demi sedikit) hingga dampak kondisi perang terlihat dengan pasti dan jelas. Sifat Suzu yang sudah terbentuk sedemikian rupa tidak membuat lingkungan sekitar dan penonton terjebak dalam depresi dan kesedihan. Ia akan bangkit, mencari cara, mencari jalan, terus berjuang tak menyerah melanjutkan hidup di masa yang sangat sulit.

Cinta, Harapan dan Keberanian
In This Corner of the World memperlihatkan dengan baik kondisi Perang Dunia II. Mulai dari pernikahan pada jaman saat itu, mengubah pakaian tradisional menjadi pakaian sehari-hari yang bisa lebih sering digunakan, ransum, kehidupan para angkatan laut, alarm tanda bahaya, hingga tragedi pengeboman Hiroshima yang mehilangkan banyak umat manusia. Rumah yang sudah dipertahankan dan diperjuangkan sekuat mungkin, tiba-tiba hancur oleh perang. Tak hanya rumah saja, bahkan orang-orang terdekat dan tercinta juga bisa kehilangan.

Interaksi dan jalin hubungan yang dibangun Suzu mampu mengisahkan tiap karakternya dengan baik. Hubungan antar karakternya yang tersusun baik dan rapi membuat penonton akan mendapatkan kisah-kisah karakternya secara mendetail. Bahkan disini kita juga diperlihatkan bahwa sepasang suami-istri yang seperti ini saja juga bisa bertengkar karena hal sepele. Tanpa sadar, penonton akan menikmati (dan turut merasakan) cara Suzu memperjuangkan hidupnya di sudut dunia ini yang selalu menginspirasi dan memberikan banyak pesan moral

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Yang mengejutkan dari movie ini salah satunya latar belakang yang benar-benar direka sesuai keadaan saat itu. Saat movie sudah berakhir, pastikan kamu melihat credits-nya hingga benar-benar habis. Karena ada epilog ketika credits sedang berlangsung.

War is like love, it always finds a way. 
Read more ... → In This Corner of the World

May 27, 2017

A Silent Voice The Movie

Tiga minggu yang lalu aku cukup khawatir apakah aku akan bisa marathon bioskop atau tidak, karena ada beberapa film yang sangat ingin kutonton salah satunya film ini. Karena pada saat kabarnya film ini akan tayang mulai dari 3 Mei 2017 aku juga mendapat kabar bahwa aku harus keluar kota. Disaat itu juga aku langsung melihat Channel BBM, Newsfeed Facebook dan aplikasi CGV serta BookMyShow di teleponku untuk memastikan film ini tayang dimana saja. Dan untungnya film ini tayang di seluruh di Indonesia termasuk kota dimana aku harus kunjungi saat itu. Tapi aku kembali was-was apakah aku tinggal didekat bioskop atau tidak, untungnya aku tinggal di dalam kota. Meski begitu aku dengan mudahnya khawatir kembali untuk mengatur jadwalku dan pihak CGV Blitzmegaplex hanya meng-update jadwal tayang bioskopnya di pagi hari (menjelang siang) saja. Tak ada kepastian akan tayang di daerah mana saja dan jam berapa saja tayangnya. Yang pasti dari aplikasi hanya bisa ditekan hingga tanggal 9 Mei 2017 namun jadwal tayangnya hanya muncul di tanggal hari itu saja.

Pada 4 Mei 2017, aku menyempatkan untuk nonton ini di jam terakhir, 22:05 aku juga tidak sempat untuk marathon atau mengejar film lainnya seperti The Boss Baby, Guardian of the Galaxy Vol 2 dan menonton ulang My Neighbor Totoro di layar tancap. Tapi daripada tidak bisa menonton anime, yang jadwalnya tidak pasti dan anime agak langka tayang di Indonesia lebih baik mengorbankan ketiga film tersebut. Ralat, sebenarnya tahun ini sudah banyak sekali anime yang tayang di Indonesia seperti bulan lalu Spirited Away yang memperingati 15 tahun juga, Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale dan KanColle Movie lalu bulan ini ada Kuroko's Basketball Last Game dan apalagi CGV Megablitz sedang mengadakan Anime Week tanggal 19 — 25 Mei 2017 hanya dengan Rp20.000.


A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

Jujur saja, ekspektasiku untuk A Silent Voice The Movie (聲の形; Koe no Katachi) tidaklah tinggi untuk anime ini. Hal didasari oleh serialisasi manga-nya yang mengecewakan untukku, dan film ini dipegang oleh Kyoto Animation yang belakangan ini agak lesu dan tidak bisa memuaskan diriku. Disini Reiko Yoshida yang sudah berpengalaman jauh (●REC, Bakuman., The Cat Returns, Deltora Quest, Genshiken, Romeo × Juliet, Kyoro-chan, Tamako Love Story) menangani menulis script dan Naoko Yamada mengarahkan dan mengontrol anime ini sebagai Sutradara (Hibike! Euphonium series, K-ON! series dan Tamako Love Story).

Cuplikan Film
Cerita dimulai dengan Shouya Ishida yang merobek kalendernya dan berhenti kerja sampingannya. Dengan bekerja selama ini dan menjual semua barang pribadinya ia hendak untuk membayar 'hutang' kepada ibunya. Lalu dilanjutkan dengan cuplikan film ke masa lalu kehidupan Shouya kecil dengan lagu My Generation yang dibawakan oleh The Who. Shouya awalnya tak tertarik sama sekali dengan kepindahan Shoko Nishiyama ke sekolahnya. "Mengapa gadis ini diam saja daritadi," Ia berpikir demikian sambil menatap Shoko. Begitu mengetahui bahwa Shoko ini tuli seakan-akan di otaknya ada suatu tombol yang telah diaktifkan.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki Shoko, lama-kelamaan sekelas kerepotan karenanya dan tidak sanggup lagi untuk menanggapinya. Hal tersebut makin mendorong Shouya untuk mem-bully Shoko. Sedihnya kelakuan Shoya sudah terlalu jauh hingga akhirnya kepala sekolah dan wali kelas turun tangan secara langsung. Pembullyan yang dipimpin oleh Shouya kini telah berbalik arah, sekelas mulai membalas dendam dan membully Shouya, meski mereka sebelumnya juga pernah ikut-ikutan membully Shoko. Atas kejadian yang terjadi ini orangtua Shoko kembali memindahkan putrinya ke sekolah lain. Karena kejadian itu juga Shouya sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Shouya yang berusia remaja hendak mencoba untuk menembus dosanya dengan membayar 'hutang' ke ibunya dan mengajak berteman dengan Shoko. Walau hal ini takkan pernah cukup untuk menghapus dosa-dosanya saat ia masih kanak-anak dahulu.

Lembaran Photo
Saat pertama kali mendengar suara Maria, keponakan Shouya yang nampak selalu ceria ini aku mengira seiyuu-nya bekas dari Barakamon atau Amaama to Inazuma. Soalnya suaranya sama-sama terdengan menggemaskan dan sangat kanak-kanak sekali. Maafkan aku Erena Kamata yang sudah mengira pada Kotoishi Naru (dari Barakamon) dan Inuzuka Tsumugi (dari Amaama to Inazuma).

Lalu ketika memperhatikan pembukaan aku selalu memikirkan movienya akan seperti apa. Apakah akan dari manga yang 7 jilid dirangkum dalam kurun waktu 2 jam atau berdasarkan dari one-shot lalu diperpanjang sedemikian rupa. Tapi pilihan kedua nampaknya sangat mustahil dari berbagai pandangan. Jadi aku terus memikirkan bagaimana mereka membuatnya menjadi durasi sebuah movie. Saat awal-awal movie kita akan melihat masa lalu Shouya yang menjadi garis besar dalam jilid satu. Mereka dengan cerdasnya mampu merangkum jilid-jilid awal manga sedemikian rupa sehingga terbentuk belasan menit di movienya yang bisa dinikmati oleh penonton yang tidak/belum membaca serialisasi maupun yang sudah. Setengah jam pertama kita diajak melihat masa lalu hubungan Shouya-Shoko dengan cara seperti melihat lembaran-lembaran foto. Walau sudah dirangkum seepik rupa mereka tetap tak mugkin luput dari kecacatan. Buruknya lagi bagi yang membaca serialisasinya pasti tahu dan jujur saja aku merasa gregeta ketika mereka harus mengorbankan scene-scene yang kena banget di hati, misalnya saja saat Shoko marah ke Yuzuru Nishimiya, adiknya.

A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

Aku awalnya juga cukup kecewa dengan pengisian Saori Hayami sebagai Shoko. Harusnya ia bisa bermain lebih buruk lagi tpai di awal-awal ia bersuara tidak seperti orang tuli, malah suaranya cute. Ku teringat guyonan temanku,"Untuk apa pakai Hayamin, hanya buang-buang uang saja (untuk mengisi tokoh tidak bersuara)" tapi ketika menonton ternyata Shoko cukup aktif bersuara toh.  Kedua, yang aku sempat kecewakan juga adalah Naoka Ueno yang cantik malah digambar terlalu cute, bahkan semua tokoh perempuan digambar menjadi cute.

Rencana Bunuh Diri
Di manga-nya kita akan diberi suguhan untuk mendapatkan cerita masing-masing per tokoh. Tapi cerita ini juga hanya cerita sampingan (yang cukup) singkat. Karena sebenarnya di manga-nya terlalu memfokuskan diri pada hubungan Shouya dan Shoko juga permasalahan yang dibuat dan dihadapi oleh Shoya. Di movie-nya ini mereka mengambil langkah tepat dengan mengutamakan motif cerita pada penyesalan terbesar yang dipendam oleh Shouya. Tanpa harus memperdalam kisah tiap tokoh, movie-nya mampu menyampaikan hubungan Shouya dan Shoko dengan epic. Bahkan hatiku lumayan berdebar ketika melihat scene tearjerking di movie ini (ketika di komiknya aku merasa biasa saja saat membacanya).

A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

Movie Koe no Katachi jauh melampaui dari ekspektasiku, aku benar-benar tersentuh ketika menontonnya. Ending-nya juga mengambil langkah berbeda dari manga-nya. Namun ending-nya juga meh dan cukup hampa untuk beberapa orang. Padahal aku suka bagaimana akhirnya Shouya bisa membuka matanya dan bagiku itu sudah cukup. Aku terpuaskan di movie ini sebab harapan terbesarku dikabulkan, yaitu,  Shouya berteriak meminta maaf pada Shoko. Selain itu movie-nya lebih mengungguli dibanding serialisasi komik dengan alasan yang sangat jelas: cerita tidak bertele-tele. Ya, dengan ini kukatakan bahwa Koe no Katachi adalah salah satu dari sedikit anime/karya yang jauh lebih baik daripada bentuk orisinilnya sendiri.

Btw kemarin aku lupa menyertakan link interview pembuatan Koe no Katachi, silahkan kamu bisa membacanya disini dan disini.
Read more ... → A Silent Voice The Movie

March 2, 2017

Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale

Seharusnya Sword Art Online the Movie –Ordinal Scale– tayang premiere di Indonesia minggu lalu, 18 Februari 2017, berbarengan dengan negara asia lainnya. Sayangnya di Indonesia ada sedikit hambatan sehingga pada tanggal 17 Februari belum ada informasi yang jelas dan tiket belum bisa dipesan. Ketika sudah dikonfirmasi akan tayang pada tanggal 25 Februari 2017, tiket premiere juga baru bisa dipesan pada selasa, 22 Februari 2017, dan kalian tahu tidak? Tiket itu ludes habis terjual pada pukul 13.00 entah itu Gold mau pun Reguler.

Aku sudah putus asa, dan padahal sudah secepat mungkin menginstall aplikasi CGV Blitz Megaplex. Sambil berharap terus menerus akan ditambahkan jam tayang, lalu harapanku dikabulkan tapi aku masih melewatkan kesempatan itu. Pada 23 Februari 2017 dibuka jadwal jam tayang baru yaitu 16:35 untuk Gold Class dan 16:15 untuk Regular dan aku telat banget ngeceknya. Aku mengecek jam 4 sore juga sudah habis terjual.

Sudah putus dan meratapi jadwal weekend-ku hancur, aku selalu berharap akan ditambahkan jam tayang baru. Dan sekali lagi harapanku dikabulkan kembali, pada malam hari 24 Ferbuari 2017 ternyata ditambahkan jam tayang baru 16:35 untuk Regular sayangnya aku mengeceknya saat jam 11 malam, hanya tersisa 6 bangku paling depan. Saat aku panik rebutan seat yang ada, ternyata data kartu member Blitz-ku belum ter-verification atau ke-synchronize ke email sehingga ternyata data identitas di aplikasi tersebut masih NULL semua dan aku super panik. Tiap kali aku mengecek jumlah bangkunya kadang bertambah kadang berkurang. Selesai mengisi identitas, yasudah aku mengambil posisi tengah paling depan dan segera lari ke ATM untuk membayarnya (karena hanya diberi range waktu 1 menit untuk pilih seat dan 15 menit untuk pembayaran). Dan setelah aku mentransfer ternyata seat yang kuinginkan sudah ke-unlock. Tapi aku tak mau nekat akan kehabisan tiket lagi, toh begitu aku cek pada pagi hari semua tiket sudah habis ludes.


SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale —

Antusias kartun SAO disini benar-benar tinggi! Para penonton sudah berbaris dengan rapi di depan pintu studio padahal masih ada waktu setengah jam lebih lho. Kukira yang nonton hanyalah orang-orang iseng sepertiku dan hanya ingin menghabiskan waktu luang, tapi mereka benar-benar fans SAO sejati. Mereka membicarakan setiap saat, entah itu cerita dan theori. Bahkan ada yang cosplay jadi Kirito juga, meski menggunakan pakaian kasual tapi doi benar-benar membawa pedangnya ke dalam bioskop! Karena issue yang terjadi di Malaysia dan Singapore, di Indonesia sangat waspada akan hal ini. Kita masih harus mengantri 10 menit untuk Security Check, yaitu matikan telepon dan masukan ke sebuah amplop lalu dicekrek deh. Film pun tak langsung tayang, ada seputar informasi dahulu dari host-nya seperti issue illegal recording. Mereka mengatakan apabila ada telepon seluler yang aktif ketika filmnya sedang berlangsung maka film akan langsung dihentikan dan dilakukan extra security check juga film yang dihentikan tidak akan dilanjutkan lagi serta no refund! Buruk sekali bukan!

SAO Movie diproduksi oleh studio A-1 Pictures dan distribukan Aniplex. Disutradarai oleh Itou Tomohiko yang sebelumnya sudah mengarahkan Silver Spoon, Seikimatsu Occult Gakuin dan Boku dake ga Inai Machi dan musik dikomposisikan oleh Yuki Kajiura yang sebelumnya mengarahkan musik di musik di Boku Dake ga Inai Machi, Fate/Zero dan Puella Magi Madoka Magica. Ordinal Scale merupakan cerita original dari Reki Kawahara khusus untuk movie ini. Yang membuatku kagum adalah ternyata kartun sudah didukung oleh audio Dolby Surround Sound (dan saat credit cap movie ini tampak dibuat oleh berbagai dan banyak studio).

SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale —

Candu Game
Sebenarnya agak sulit untuk bercerita, soalnya sudah disuruh untuk menutup mulut oleh para petugas CGV Blitz Megaplex. Jangan sampai spoiler, tapi rasanya tetap tidak tahan ingin bercerita sedikit saja. Apalagi sudah beredar trailer 12 menit pertama. Ya sebenarnya kalo kalian sudah menonton trailernya yang 12 menit pertama itu, seharusnya sudah tahu garis besar masalah di cerita kali. Ya lansgung akan kuceritakan (hingga 12 menit pertama itu).

Sebelum memasuki cerita di Ordinal Scale, akan ada sedikit flashback kenangan manis antara Yuuki Asuna dan Kirigaya Kazuto alias Kirito. Mereka membuat janji suci untuk melihat bintang jatuh bersama ketika sudah berhasil keluar dari Aincard, Sword Art Online.

Tahun 2026 sebuah game inovasi mulai mewabah di masyarakat. Apabila dulu NerveGear membuat pemainnya terjun langsung ke dalam Virtual Reality (VR) yang notabene membahayakan manusia karena terjebak dalam permainan SAO, maka Professor Shigemura mengembangkan permainan masa depan yang lebih aman dan realistis. Augma merupakan alat yang sangat aman karena pemain tetap dalam keadaan sadar dan lebih interaktif yang mengharuskan pemain menggerakan fisik secara langsung. Dasarnya struktur lingkungan sekitar tak berubah namun hanya tampilan lingkungan saja yang berubah. Alat ini sangatlah hits, tak hanya untuk bermain Augmented Reality (AR) tapi juga memiliki fungsi canggih lainnya yang seperti pada smartband, menghitung kalori pengguna, mencatat makanan favorit, mengirim pesan pendek atau bahkan sekedar memberitahukan acara televisi favorit.

Ordinal Scale (OS) adalah game ARMMORPG didesain khusus dari Augma yang saat ini sedang populer dimainkan. Game ini sering memberikan event-event khusus yang nantinya apabila ranking pemain semakin maka semakin banyak bonus yang didapat. Bonusnya tak hanya bonus game, melainkan bonus potongan harga atau free item di restoran atau pusat perbelanjaan.

SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale —

Kirito tidak menanggapi sama sekali dengan AR ini, ia berpikir VR jauh lebih seru meskipun AR sedang booming dimana-mana. Hingga suatu saat Kirito mendadak tertarik memainkan OS karena akan ada event dimana boss di Aincard SAO akan muncul di OS. Di event inilah Kirito dan Asuna bertemu dengan Eiji, pemain Ranking 2 dalam OS.

Mesin Steroid
Jujur saja aku belum menontn Sword Art Online II sama sekali, karena yang Season 1 ternyata tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku membayangkan akan penuh dengan action tapi nyatanya ternyata action-nya paling hanya 10% walau tidak sesuai dengan ekspektasiku, aku tetap mencoba menyelesaikan Season 1 (hingga selesai di arc ALfheim Online (ALO)).

Nah disini maka sebaliknya, porsi action banyak sekali, totalitas action. Tapi sayangnya Kirito cupu sekali dalam memainkan game AR. Eiji, Antagonis di OS, malah sangat over-power hingga ditengah-tengah film gerakannya makin tidak manusiawi. Sangat lincah bagaikan manusia super. Tapi nantinya akan ke-reveal mengapa Eiji bisa sehebat itu. Tetap saja saat awal-awal melihatnya reaksiku,"Dude, what?"

Di film ini juga menjadi sebuah jembatan perantara untuk mengenang kembali masa-masa SAO, akan ada banyak trivia, seperti boss yang hadir di Aincard. Dan tentunya, costume game di SAO tak terlewatkan disini.

Rath
Setelah selesai menonton jangan terburu-buru untuk selesai menonton atau langsung keluar bioskop (tapi toh saat premiere penonton tidak boleh keluar bila credit belum selesai juga). Karena saat credit screen ada banyak scene extra disitu dan setelah credit selesai akan ada after scene. Juga pengumuman untuk SAO Season 3,"SAO will be back."

Heboh Fantastis
Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti apakah untuk menonton movie ini harus nonton Season II-nya terlebih dahulu atau tidak tapi berdasarkan yang aku nonton kemarin sepertinya tidak perlu. Paling hanya sedikit kebingungan ada beberapa tokoh yang tidak dikenal (apabila tidak menonton Season II).

Untungnya aku duduk disebelah rombongan yang fans SAO, sehingga aku lumayan terbantu dengan penjelasan yang mereka berikan. Tepatnya orang yang disebelahku tanya terus-menerus sih keteman di sampingnya dan aku hanya mengupingnya. Menyedihkannya juga, banyak adgean yang menjurus ke "chapter 16.5", kukatakan sekali menjurus (alias mendekati), sehingga banyak penonton yang langsung teriak heboh histeris. Oh ayolah, padahal saat itu sedang adegan romantisnya, seriusnya, sedihnya dan nge-feel-nya. Aku sedikit lumayan terganggu. Bisa kukatakan SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale — mengalahkan Kimi no Na wa. di Indonesia. Terlihat sekali hype penonton di studio bioskop dan bahkan para penonton sudah berbaris dengan rapi padahal pintu studio masih akan dibuka 40 menit lagi. Apalagi penonton SAO sedikit-sedikit teriak dan banyak mendapatkan tepok tangan saat film sedang berlangsung.

Meski movie ini tidak ada adegan ecchi, tapi ada beberapa adegan yang telah di-'lulus sensor'. Contohnya ketika Asuna sedang mandi, maka screen hanya di-zoom ke wajah Asuna dan gambar shampoo dan isi kamar mandi diperlihatkan berkali-kali, layaknya saat menonton movie di televisi lokal.

Movie ini akan tayang pada 20 Maret 2017 mendatang yang sepertinya akan tayang dalam kurun waktu seminggu, bila peminatnya banyak ada kemungkinan besar maka masa tayang akan diperpanjang. Seperti pada kasus penayangan premiere, yang awalnya hanya ada 2 sesi ditambah hingga total penayangan premiere menjadi 5 sesi (dengan perbedaan waktu tiap 15 menit).

Karena aku hanya mendapatkan tiket premiere reguler aku tidak mendapatkan tanda tangan Haruka Tomatsu, ah padahal aku ingin sekali tanda tangan Tomacchan. Tiket reguler hanya akan mendapatkan papan tanda tangan secara acak. Ngomong-ngomong saat penukaran special merchandise tiket tak boleh jatuh dan penukaran dilakukan di studio itu juga. Apabila sudah ditukarkan dengan merchandise maka amplop telepon seluler sudah boleh dibuka kembali. Ini akan kusertakan screenshot tentang issue pembajakan di Malaysia dan Singapore dan tiket yang langsung habis di hari pertama dibuka.

Btw, sebenarnya aku cukup bingung dengan hubungan Asuna-Kirito. Meski mereka sudah berpacaran serius dalam real life tapi mereka masih memanggil satu sama lain dengan ingame name (nama di game-nya). Bukankah secara (reflek/tak sadar) begitu sudah mengetahui nama aslinya dan hubungannya semakin dekat secara otomatis akan memanggil satu sama lain dengan menggunakan nama aslinya?

Oh ya, petugas bioskopnya juga sangat menekankan issue ini agar kedepannya film Jepang masih bisa masuk ke Indonesia, ngomong-ngomong tulisanku disini bukan spoiler kan ya? Aku hanya ingin mengkonfirmasinya saja, agar aku tetap bisa menepati janji kepada para petugas bioskop dan berbagai pihak film yang telah bekerja untuk berlangsungnya film ini. Btw, perjuanganku saat membeli tiket ini aku tiap beberapa puluh menit sekali atau saat lumayan senggang selalu mengecek kembali aplikasi CGV ID Cinemas, karena kondisiku jauh dari tempat bioskop tersebut. Berbeda dengan temanku yang memesan tiketnya langsung datang ditempat.

Sword Art Online Movie Premiere langsung habis terjual

Pembajakan SAO Movie di Singapore dan Malaysia

Read more ... → Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale

November 27, 2016

The Boy and the Beast (Bakemono no Ko)

Jauh dulu sekali aku sempat meng-add sebuah akun official Jepang untuk mendapatkan free sticker regional. Suatu hari tiba-tiba akun tersebut berubah nama dan icon/gambar menjadi anime. Hingga cukup waktu yang agak lama mulai terkuak bahwa akun tersebut menjadi akun official movie yang akan tayang di Jepang.

Kemarin, Sabtu, tanggal 26 November 2016 awal rencananya aku akan maratonin movie di Japan Fun Day Show Japanese Film Festival 2016 mulai dari jam paling pertama, 12.30 hingga jam terakhir 21.30 terlebih lagi Moana sudah tayang di Indonesia, perfect sekali bukan rencanaku. Tapi karena ada acara lain, aku menggeser prioritasku sehingga hanya sempat menonton satu film. Alasan lainnya adalah ternyata aku juga salah mengecek jadwal, ternyata movie yang ingin kutonton marathon itu ternyata hari Jum'at dan aku tidak bisa menontonnya dihari itu.

The Boy and the Beast (バケモノの子; Bakemono no Ko) merupakan animasi action adventure pada tahun 2015 yang memenangkan award Animasi Terbaik ke-37 pada ajang Japan Academy Prizes. Movie ini ditulis dan disutradrai oleh Mamoru Hosoda, yang telah menjebolkan layar lebar dengan Toki wo Kakeru Shoujo, Summer Wars dan Ookami Kodomo no Ame to Yuki. Ketiga karya sebelumnya meraup keuntungan besar dan memenangkan berbagai award, bahkan award Animasi Terbaik Tahunan tak pernah lepas darinya. Sayangnya meskipun aku mengenal baik sekali nama Hosoda tapi aku belum pernah menonton karyanya sama sekali. Ini adalah film Hosoda pertamaku. Teman baikku mengatakan bahwa The Boy and the Beast bukanlah hasil terbaik dari Hosoda karena kurangnya unsur originalitas yang tertuang dalam karya ini. Walau ini film Hosoda pertamakalinya bagiku, aku lumayan membaca dan mendengarkan ulasan temanku itu sehingga aku sedikit menurunkan ekspektasi dan harapan.

Berandalan Tak Beretika
Ren yang berusia 9 tahun baru saja kehilangan ibunya karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Ayahnya yang tinggal pisah rumah membuat Ren seharusnya tinggal dengan walinya. Keputusan yang tidak menyenangkan untuk Ren ini disebabkan tak ada kabar sama sekali dari ayahnya. Menolak keputusan orang dewasa yang egois dan semena-mena Ren mengambil jalan lain, melarikan diri, ia akan hidup gembel, berkelana tanpa tujuan, sendirian. Kebencian Ren pada orang dewasa sekitar membuat ia membenci semua manusia yang ada.

Ren yang sedang jongkok mengumpet diri dari keramaian Shibuya mendengar ocehan gila dari Kumatetsu. Monster beruang ini ngomong terus-terusan serta mengajak Ren untuk mengikutinya. Walau Ren mengacuhkannya, tapi tawaran Kumatetsu sedikit menggiurkan karena ia tak punya tujuan kemanapun.


The Boy and the Beast (Bakemono no Ko) - Studio Chizu - Mamoru Hosoda

Tanpa disadari ternyata Ren telah memasuki dunia lain dan tujuan Kumatetsu terlihat jelas, bahwa ia membutuhkan seorang murid agar dapat menjadi Dewa Binatang baru. Ren ogah menjadi muridnya karena etika Kumatetsu yang buruk sekali. Bahkan ia enggan menyebutkan nama kepadanya, sehingga Kumatetsu memberikan nama Kyuuta ke Ren. Sebenarnya Ren juga sedikit kurang ajar atas segala perilaku dan ucapannya yang dilontarkan ke Kumatetsu, ia (mulai) sadar dan berkaca diri dengan sifatnya dan merasa bersalah ke Kumatetsu, meski ia sendiri tidak mau mengakuinya. Secara tak langsung ia sudah menjadi murid pertamanya dan kehidupan sehari-hari mereka berubah. Guru dan murid ini selalu cekcok karena keduanya sama-sama keras kepala dan keduanya juga kurang beretika.

Makna Kekuatan
Meski awalnya mengisahkan seorang anak lelaki yang terjebak di dunia lain tapi poin utama dari anime ini tak jauh dari interaksi guru dan murid yang saling bahu-membahu belajar satu sama lainnya. Ini terlihat jelas pada adegan dimana Kumatetsu dan Kyuuta selalu berlatih bersama, tiap hari, tanpa mengenal cuaca yang menghadang. Jujur saja pada bagian ini sebenarnya terasa cukup flat sekali. Yah aku akui saat mereka berlatih itu tergambar smooth dan indah sekali tapi tetap saja, flat. Bahkan ketika berjalan mencari filosofi menjadi kuat hanya terlihat sekilas saja. Dan tentu saja cerita otomatis terpusat menjadi guru-murid.

Sisi Gelap Menggerogoti Manusia
Kesampingkan dahulu plot umum guru-murid yang ada, Hosoda berhasil memberikan drama yang tajam ketika Kyuuta sudah mulai tumbuh berkembang dewasa namun Kumatetsu nampaknya tidak berubah sama sekali.

Kita akan menemui 3 masalah dari cerita ini, kebimbangan Kyuuta untuk tetap tinggal bersama Kumatetsu atau mencari ayahnya kembali, kompetisi menjadi Dewa Binatang baru, dan kebusukan Ren yang masih terpendam sejak ia dari kecil. Tatara dan Hyakushuubou yang selalu mengawasi guru-murid sejak pertama kali bertemu memberikan suatu pelajaran/dampak penting kepada mereka berdua dan pertemuan Ren dengan Kaede juga tak kalah pentingnya membangun kedewasaan Ren yang semakin mantap. Character development yang ada disini menyentuh sekali.

Konstelasi Biru Ikan Paus
Walau tadi kukatan cukup hambar saat adegan Kumatetsu dan Kyuuta berlatih bersama tapi saat menontonnya aku terkesima dengan audio dan animasi ditampilkan The Boy and the Beast. Bahkan kebimbangan Kyuuta dan Kaede yang siap menemani dan menuntunya setiap saat membuat perasaanku hanyut saat menontonnya. Masalah yang disimpan pada masing-masing karakter yang ada membuat aku jatuh semakin dalam pada drama yang diciptakan oleh Hosoda. Film ini juga banyak memotivasiku untuk kembali melakukan hal-hal positif (yang ingin kulakukan selama ini). Dua adegan favoritku ketika Kyuuta mengintimidasi Kumatetsu dengan meniru gerakannya dan saat Kaede menyadarkan Ren saat ia kebingungan.

Japan Fun Day Show Japanese Film Festival Indonesia 2016

Japan Fun Day Show Japanese Film Festival Indonesia 2016

Japan Fun Day Show Japanese Film Festival Indonesia 2016

Penutup dari tulisan ini aku akan OOT seperti biasa dan sedikit bercerita tentang acara Japanese Fun Day Show. Meski panggungnya cukup kecil dan tidak terlalu banyak booth yang berjejer berdiri, tapi dengan ukuran segitu sudah ramai dihuni berbagai pengunjung dari awal hingga malam. Booth yang ada juga memberikan harga yang terjangkau dan screening yang tayang harganya terjangkau. Aku sangat menyukainya sekali. Oh aku ingin sekali menonton Chihayafuru Live Action dan masih lumayan penasaran dengan The Anthem of the Heart, yah walau banyak sekali yang mengatakan anime ini kentang sekali (termasuk semua temanku) tapi aku tetap penasaran ingin menontonnya! Oh ya, tanggal 7 Desember 2016 mendatang Kimi no Na wa. juga akan tayang di Indonesia, aku harus menontonnya di layar lebar.
Read more ... → The Boy and the Beast (Bakemono no Ko)
 

Autumn 2015 Anime Chart

【Autumn 2015 Anime Chart】
For other info, click here.
For its hashtags, click here.

Featured Video


Random Posts