June 19, 2017

In This Corner of the World

Fumiyo Kono sempat menuliskan Yunagi no Machi Sakura no Kun pada tahun 2004 yang mengangkat tema dampak dari pasca perang. Karyanya tersebut memenangkan Japan Media Arts Festival's Grand Prize for manga di tahun 2004 serta Tezuka Osamu Creative Award di 2005. Lalu di 2007 dengan ciri khas gambarnya ia menuliskan In This Corner of the World (この世界の片隅に; Kono Sekai no Katasumi ni) yang menggunakan tema perperangan kebali. Sekali lagi, karyanya satu ini terpilih sebagai Karya yang Direkomendasikan oleh Juri (Juara Harapan?) pada 2008 di ajang Japan Media Arts Festival dan memenangkan Excellence Prize pada tahun 2009. 5 Agustus 2011, In This Corner of the World tayang live-action yang dibintangi oleh Keiko Kitagawa dan Keisuke Koide.


Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Sebagai Peringatan 70 Tahun Bom Hiroshima, animasi In This Corner of The World mulai tayang di layar lebar pada 2016 yang diproduksi oleh MAPPA, distudarai dan ditulis oleh Sunao Katabuchi (Black Lagoon, Princess Arete dan Mai Mai Miracle), desain karakter oleh Hidenori Matsubara (Sakura Taisen series, Aa! Megami-sama! series dan The Princess and the Pilot) dan musik oleh kotringo (Koufuku Graffiti dan Kuma No Gakkou - Jackie to Katie). Tak hanya manga-nya saja yang menyambet penghargaan, namun versi adaptasi ini juga sukses meraih pelbagai penghargaan seperti Hiroshima International Film Festival's Peace Film Award Hiroshima, 40th Japan Academy Prize Animation of the Year, Osaka Cinema Festival 2017 Japanese Film Best10 dan masih banyak lagi.

Bengong Melamun
Suzu Urano, gadis 18 tahun yang yang tinggal di Eba, Kota Hiroshima ini selalu memiliki pandangan positif dalam hidupnya, walau kejadian yang menimpa hidupnya engga selalu enak tapi ia selalu saja bisa mencari jalan positif. Sisi positif miliknya juga dipicu oleh sifatnya yang mudah lupa atau sulit mengingat keadaan sekitar dalam jangka pendek. Kehidupan keluarganya sangatlah damai.

Pada usianya yang menjelang 19 tahun ini ia mendadak dilamar oleh Shuusaku Houjou, seorang pria yang tidak ia kenali, tepatnya ia tidak ingat pernah bertemu atau melihatnya dimana. Neneknya pernah mengatakan semua tergantung pilihan pada Suzu sendiri, ia bisa saja menolaknya bila tak menginginkannya. Setelah memikirkannya cukup matang ia menerima tawaran pria tersebut.


Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Suzu pun memasuki stage baru dalam kehidupannya, tantangan baru muncul bertubi-tubi menghantam dirinya. Sifatnya lugu, sedikit ceroboh dan airhead harus bekerja extra agar dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Perihal saat ini tinggal di Kure yang jauh dari tempat asal, ibu mertua kondisinya saat ini sudah sulit untuk berjalan, kakak ipar yang galak dan keras, mengingat nama-nama tetangga dan jalan, mengubah gaya hidup saat masih gadis dan lain-lain. Suzu yang sudah menjadi ibu rumah tangga ini juga harus bangun lebih pagi, seperti untuk menimba air, menyiapkan makanan dan membereskan rumah.

Hidup pada tahun 1944, jaman perang, membuat keadaan menjadi sulit. Ransum yang terbatas, porsi atau isi pokok lauknya bisa saja berkurang sewaktu-waktu. Hal ini membuat Suzu berpikir bagaimana cara membagi jumlah ransum yang terbatas untuk 1 rumah dan bagaimana mendapatkan dan/atau menambahkan porsi lebih ketika keadaan sangat minim.

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Ketika waktu senggang, Suzu kembali pada hobi lamanya yaitu menggambar alam yang ada di depan matanya. Hobi ini sudah terasah sejak ia kecil hingga membuahkan hasil gambar yang bagus dan indah. Seringkali hobi ini malah menjadi menyulitkan dirinya, pensil yang seharusnya digunakan untuk bersekolah malah dihabiskan untuk menggambar. Suzu yang tinggal di bukit bisa melihat jelas perairan yang dipenuhi oleh kapal-kapal perang seperti Musashi dan Yamato (ia diajarkan oleh keponakannya, yang sebenarnya pernah diajarkan langsung oleh Shuusaku, tapi ia sulit mengingatnya). Ditengah-tengah asyiknya menggambar tiba-tiba ada sepasang polisi yang menggrebeknya dan dicurigai sebagai mata-mata.

Begitu dibawa kerumah, permasalahan ini tak kunjung selesai, bahkan ketika polisi tersebut masih tanya-jawab, mencurigai, menceramahi dan mengancam keluarga Houjou, Suzu malah tak ingat sama sekali tadi ia sedang apa hingga polisi bisa membawa ia kerumahnya.

Meski terlihat damai dan tenang, keluarga Houjou tak lupa bahwa lingkungannya sedang dalam area perang. Suzu dan penduduk warga sekitar diberi bekal ilmu pengetahuan seperti bom, evakuasi, alarm tanda bahaya dan lain-lain dari pihak Angkatan Laut. Keluarga Houjou juga membangun sebuah tunnel evakuasi untuk tempat berlindung apabila ada serangan.

Pada tahun 1945, keadaan mulai memanas, alarm evakuasi yang hampir tiap malam selalu bunyi (kadang hanya alarm bohongan), serangan yang tak mengenal waktu dan tempat, pangan yang semakin sulit didapatkan.

Perlahan Tapi Pasti
Hampir setengah film penonton hanya suasana yang adem kalem, indahnya kehidupan bersama keluarga hingga sampai lupa bahwa keadaan saat itu ditengah-tengahnya panasnya api perperangan. Tak perlu khawatir dengan transisi cerita yang super santai dan rileks hingga menjadi drama serius. Movie ini berhasil membuat alur secara natural dan epik, dengan perlahan-lahan penonton diasupin dengan sulitnya kondisi perang (sedikit demi sedikit) hingga dampak kondisi perang terlihat dengan pasti dan jelas. Sifat Suzu yang sudah terbentuk sedemikian rupa tidak membuat lingkungan sekitar dan penonton terjebak dalam depresi dan kesedihan. Ia akan bangkit, mencari cara, mencari jalan, terus berjuang tak menyerah melanjutkan hidup di masa yang sangat sulit.

Cinta, Harapan dan Keberanian
In This Corner of the World memperlihatkan dengan baik kondisi Perang Dunia II. Mulai dari pernikahan pada jaman saat itu, mengubah pakaian tradisional menjadi pakaian sehari-hari yang bisa lebih sering digunakan, ransum, kehidupan para angkatan laut, alarm tanda bahaya, hingga tragedi pengeboman Hiroshima yang mehilangkan banyak umat manusia. Rumah yang sudah dipertahankan dan diperjuangkan sekuat mungkin, tiba-tiba hancur oleh perang. Tak hanya rumah saja, bahkan orang-orang terdekat dan tercinta juga bisa kehilangan.

Interaksi dan jalin hubungan yang dibangun Suzu mampu mengisahkan tiap karakternya dengan baik. Hubungan antar karakternya yang tersusun baik dan rapi membuat penonton akan mendapatkan kisah-kisah karakternya secara mendetail. Bahkan disini kita juga diperlihatkan bahwa sepasang suami-istri yang seperti ini saja juga bisa bertengkar karena hal sepele. Tanpa sadar, penonton akan menikmati (dan turut merasakan) cara Suzu memperjuangkan hidupnya di sudut dunia ini yang selalu menginspirasi dan memberikan banyak pesan moral

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Kono Sekai no Katasumi ni — In This Corner of the World

Yang mengejutkan dari movie ini salah satunya latar belakang yang benar-benar direka sesuai keadaan saat itu. Saat movie sudah berakhir, pastikan kamu melihat credits-nya hingga benar-benar habis. Karena ada epilog ketika credits sedang berlangsung.

War is like love, it always finds a way. 
Read more ... → In This Corner of the World

June 10, 2017

Mitsuboshi★★★Colors

Setiap kali aku menyelesaikan sebuah manga atau sudah membaca hingga chapter terbarunya, seringkali akan muncul sesi,"If you read this manga, you might like this" kira-kira sesi rekomendasi random tersebut berdasarkan manga yang telah kubaca. Namun rekomendasi ini biasanya hanyalah sebuah list random, bisa saja berdasarkan genre, kesesuaian cerita yang serupa,  manga yang sedang populer/paling banyak dibaca akhir-akhir ini atau bisa juga beneran random; genre tidak sama, cerita juga tidak mirip.


Mitsuboshi Colors

Bulan lalu aku menemukan Mitsuboshi★★★Colors (三ツ星カラーズ) disebuah situs membaca manga dan aku langsung mengkliknya saja sekalian menghabiskan waktu istirahatku, tanpa membaca sinopsis, terbit tahun kapan, sudah tamat belum dan bahkan aku lupa sebelumnya aku membaca manga apa hingga bisa diarahkan ke manga ini. Manga ini ditulis oleh Katsuwo semenjak 2014 dan tak lama lagi anime-nya akan segera mengudara, di tahun ini, 2017.

Chupacabra
Colors, sebuah kelompok yang bertugas menjaga perdamaian dan keamanan wilayah Ueno. Mereka memecahkan kasus-kasus yang sedang terjadi di kota yang mereka cintai dan tinggali. Walau rutin mengadakan rapat rutin di secret base mereka untuk menjaga kota tetap tentram mereka juga tahu cara menghabiskan keseharian dengan bersenang-senang. Meski sedang bersenang-senang, mereka tetap siap siaga, begitu mencium bau kasus yang lagi terjadi mereka akan langsung membantu, mencari cara dan solusi hingga menyelesaikan kasus tersebut. Bahkan mereka akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan umat manusia.

Mitsuboshi Colors

Colors terdiri dari sekumpulan tiga perempuan cilik:
  • Sacchan: Gadis konyol yang sangat aktif, saking aktifnya hal-hal bodoh mengikuti sifat ini. Namun dari sifat bodohnya ini ia juga sering mencetuskan ide-ide... bodoh lainnya untuk bersenang-senang.
  • Kotoha: Si problem solver tiap masalah dan kasus yang ada. Meski ia gemar bermain game, namun faktanya dia sangat tidak jago sekali memainkan game. Tentu saja bila dibilang seperti ini ia tidak akan menerimanya dan merasa sakit hati.
  • Yui: Ketua kelompok Colors yang ternyata cengeng ini menjadi penengah antara kebodohan dari Sacchan dan kejeniusan dari Kotoha. Dia juga seringkali memberi petunjuk ke Kotoha agar dapat menyelesaikan sebuah kasus.

Waspada Siap Siaga
Per-chapter berisikan berkisar 15 halaman yang diisi oleh aktivitas Colors berhasil membuatku tertawa terhibur melihat aksi-aksi konyol dan kelucuan mereka. Bila tak ada kasus, mereka akan mencari sebuah kasus untuk dipecahkan. Tentunya cara mereka menyelesaikan kasus (menghabiskan waktu main) sangat menghibur. Ngomong-ngomong bila kalian menyukai komedi sehari-hari yang dikelilingi oleh anak kecil, tepatnya perempuan juga, kalian bisa membaca Strawberry Marshmallow yang ditulis oleh Barasui.

Mitsuboshi Colors


Read more ... → Mitsuboshi★★★Colors

May 27, 2017

A Silent Voice The Movie

Tiga minggu yang lalu aku cukup khawatir apakah aku akan bisa marathon bioskop atau tidak, karena ada beberapa film yang sangat ingin kutonton salah satunya film ini. Karena pada saat kabarnya film ini akan tayang mulai dari 3 Mei 2017 aku juga mendapat kabar bahwa aku harus keluar kota. Disaat itu juga aku langsung melihat Channel BBM, Newsfeed Facebook dan aplikasi CGV serta BookMyShow di teleponku untuk memastikan film ini tayang dimana saja. Dan untungnya film ini tayang di seluruh di Indonesia termasuk kota dimana aku harus kunjungi saat itu. Tapi aku kembali was-was apakah aku tinggal didekat bioskop atau tidak, untungnya aku tinggal di dalam kota. Meski begitu aku dengan mudahnya khawatir kembali untuk mengatur jadwalku dan pihak CGV Blitzmegaplex hanya meng-update jadwal tayang bioskopnya di pagi hari (menjelang siang) saja. Tak ada kepastian akan tayang di daerah mana saja dan jam berapa saja tayangnya. Yang pasti dari aplikasi hanya bisa ditekan hingga tanggal 9 Mei 2017 namun jadwal tayangnya hanya muncul di tanggal hari itu saja.

Pada 4 Mei 2017, aku menyempatkan untuk nonton ini di jam terakhir, 22:05 aku juga tidak sempat untuk marathon atau mengejar film lainnya seperti The Boss Baby, Guardian of the Galaxy Vol 2 dan menonton ulang My Neighbor Totoro di layar tancap. Tapi daripada tidak bisa menonton anime, yang jadwalnya tidak pasti dan anime agak langka tayang di Indonesia lebih baik mengorbankan ketiga film tersebut. Ralat, sebenarnya tahun ini sudah banyak sekali anime yang tayang di Indonesia seperti bulan lalu Spirited Away yang memperingati 15 tahun juga, Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale dan KanColle Movie lalu bulan ini ada Kuroko's Basketball Last Game dan apalagi CGV Megablitz sedang mengadakan Anime Week tanggal 19 — 25 Mei 2017 hanya dengan Rp20.000.


A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

Jujur saja, ekspektasiku untuk A Silent Voice The Movie (聲の形; Koe no Katachi) tidaklah tinggi untuk anime ini. Hal didasari oleh serialisasi manga-nya yang mengecewakan untukku, dan film ini dipegang oleh Kyoto Animation yang belakangan ini agak lesu dan tidak bisa memuaskan diriku. Disini Reiko Yoshida yang sudah berpengalaman jauh (●REC, Bakuman., The Cat Returns, Deltora Quest, Genshiken, Romeo × Juliet, Kyoro-chan, Tamako Love Story) menangani menulis script dan Naoko Yamada mengarahkan dan mengontrol anime ini sebagai Sutradara (Hibike! Euphonium series, K-ON! series dan Tamako Love Story).

Cuplikan Film
Cerita dimulai dengan Shouya Ishida yang merobek kalendernya dan berhenti kerja sampingannya. Dengan bekerja selama ini dan menjual semua barang pribadinya ia hendak untuk membayar 'hutang' kepada ibunya. Lalu dilanjutkan dengan cuplikan film ke masa lalu kehidupan Shouya kecil dengan lagu My Generation yang dibawakan oleh The Who. Shouya awalnya tak tertarik sama sekali dengan kepindahan Shoko Nishiyama ke sekolahnya. "Mengapa gadis ini diam saja daritadi," Ia berpikir demikian sambil menatap Shoko. Begitu mengetahui bahwa Shoko ini tuli seakan-akan di otaknya ada suatu tombol yang telah diaktifkan.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki Shoko, lama-kelamaan sekelas kerepotan karenanya dan tidak sanggup lagi untuk menanggapinya. Hal tersebut makin mendorong Shouya untuk mem-bully Shoko. Sedihnya kelakuan Shoya sudah terlalu jauh hingga akhirnya kepala sekolah dan wali kelas turun tangan secara langsung. Pembullyan yang dipimpin oleh Shouya kini telah berbalik arah, sekelas mulai membalas dendam dan membully Shouya, meski mereka sebelumnya juga pernah ikut-ikutan membully Shoko. Atas kejadian yang terjadi ini orangtua Shoko kembali memindahkan putrinya ke sekolah lain. Karena kejadian itu juga Shouya sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Shouya yang berusia remaja hendak mencoba untuk menembus dosanya dengan membayar 'hutang' ke ibunya dan mengajak berteman dengan Shoko. Walau hal ini takkan pernah cukup untuk menghapus dosa-dosanya saat ia masih kanak-anak dahulu.

Lembaran Photo
Saat pertama kali mendengar suara Maria, keponakan Shouya yang nampak selalu ceria ini aku mengira seiyuu-nya bekas dari Barakamon atau Amaama to Inazuma. Soalnya suaranya sama-sama terdengan menggemaskan dan sangat kanak-kanak sekali. Maafkan aku Erena Kamata yang sudah mengira pada Kotoishi Naru (dari Barakamon) dan Inuzuka Tsumugi (dari Amaama to Inazuma).

Lalu ketika memperhatikan pembukaan aku selalu memikirkan movienya akan seperti apa. Apakah akan dari manga yang 7 jilid dirangkum dalam kurun waktu 2 jam atau berdasarkan dari one-shot lalu diperpanjang sedemikian rupa. Tapi pilihan kedua nampaknya sangat mustahil dari berbagai pandangan. Jadi aku terus memikirkan bagaimana mereka membuatnya menjadi durasi sebuah movie. Saat awal-awal movie kita akan melihat masa lalu Shouya yang menjadi garis besar dalam jilid satu. Mereka dengan cerdasnya mampu merangkum jilid-jilid awal manga sedemikian rupa sehingga terbentuk belasan menit di movienya yang bisa dinikmati oleh penonton yang tidak/belum membaca serialisasi maupun yang sudah. Setengah jam pertama kita diajak melihat masa lalu hubungan Shouya-Shoko dengan cara seperti melihat lembaran-lembaran foto. Walau sudah dirangkum seepik rupa mereka tetap tak mugkin luput dari kecacatan. Buruknya lagi bagi yang membaca serialisasinya pasti tahu dan jujur saja aku merasa gregeta ketika mereka harus mengorbankan scene-scene yang kena banget di hati, misalnya saja saat Shoko marah ke Yuzuru Nishimiya, adiknya.

A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

Aku awalnya juga cukup kecewa dengan pengisian Saori Hayami sebagai Shoko. Harusnya ia bisa bermain lebih buruk lagi tpai di awal-awal ia bersuara tidak seperti orang tuli, malah suaranya cute. Ku teringat guyonan temanku,"Untuk apa pakai Hayamin, hanya buang-buang uang saja (untuk mengisi tokoh tidak bersuara)" tapi ketika menonton ternyata Shoko cukup aktif bersuara toh.  Kedua, yang aku sempat kecewakan juga adalah Naoka Ueno yang cantik malah digambar terlalu cute, bahkan semua tokoh perempuan digambar menjadi cute.

Rencana Bunuh Diri
Di manga-nya kita akan diberi suguhan untuk mendapatkan cerita masing-masing per tokoh. Tapi cerita ini juga hanya cerita sampingan (yang cukup) singkat. Karena sebenarnya di manga-nya terlalu memfokuskan diri pada hubungan Shouya dan Shoko juga permasalahan yang dibuat dan dihadapi oleh Shoya. Di movie-nya ini mereka mengambil langkah tepat dengan mengutamakan motif cerita pada penyesalan terbesar yang dipendam oleh Shouya. Tanpa harus memperdalam kisah tiap tokoh, movie-nya mampu menyampaikan hubungan Shouya dan Shoko dengan epic. Bahkan hatiku lumayan berdebar ketika melihat scene tearjerking di movie ini (ketika di komiknya aku merasa biasa saja saat membacanya).

A Silent Voice The Movie — Koe no Katachi

Movie Koe no Katachi jauh melampaui dari ekspektasiku, aku benar-benar tersentuh ketika menontonnya. Ending-nya juga mengambil langkah berbeda dari manga-nya. Namun ending-nya juga meh dan cukup hampa untuk beberapa orang. Padahal aku suka bagaimana akhirnya Shouya bisa membuka matanya dan bagiku itu sudah cukup. Aku terpuaskan di movie ini sebab harapan terbesarku dikabulkan, yaitu,  Shouya berteriak meminta maaf pada Shoko. Selain itu movie-nya lebih mengungguli dibanding serialisasi komik dengan alasan yang sangat jelas: cerita tidak bertele-tele. Ya, dengan ini kukatakan bahwa Koe no Katachi adalah salah satu dari sedikit anime/karya yang jauh lebih baik daripada bentuk orisinilnya sendiri.

Btw kemarin aku lupa menyertakan link interview pembuatan Koe no Katachi, silahkan kamu bisa membacanya disini dan disini.
Read more ... → A Silent Voice The Movie

April 12, 2017

Boku wa Mari no Naka

Kemarin pagi, tepatnya dini hari. Aku terbangun jam setengah tiga pagi karen pada hari minggunya aku tidur cepat (sekitar jam delapan) untuk mengistirahatkan badanku. Karena hampir seminggu lalu aku hanya mendapatkan tidur selama tiga tiap harinya. Begitu mendapatkan tidur selama enam setengah jam aku ingin melanjutkan tidur lagi, sayangnya tidak bisa.

Akhirnya aku membuka twitter dan mendapat kabar bahwa Boku wa Mari no Naka (ぼくは麻理のなか; Inside Mari) akan diangkat menjadi TV Live Action. Aku cukup mengenal nama Oshimi Shuzo atas karya Sweet Poolside (diangkat TV Live Action tayang pada 2014), Aku no Hana (anime yang menggunakan teknik rotoscope mengudara 2013) dan Devil Ecstasy. Lagi-lagi aku sama sekali belum pernah membaca karyanya satupun. Jadi aku mencoba membacanya sambil berharap akan tertidur nantinya. Ternyata kesalahan besar, meski aku berhenti di pertengahan jilid, dan menutup mata, tak sampai lima menit aku membuka mataku kembali untuk melanjutkan manga satu ini dan tanpa sadar ayam-ayam sudah berkokok. Ya aku kalah telak dengan rasa penasaran. Dan ini menjadi rekor baruku, membaca manga secara online sebanyak 9 jilid dalam waktu semalam. Aku bukanlah tipe orang yang kuat membaca di layar lama-lama, dan biasanya aku sangat malas bila manga yang akan kubaca sudah diatas 4 jilid.

Siapa Aku?
Isao Komori, seharusnya tahun ini dia sudah memasuki tahun akhir perkuliahannya.  Namun hal itu tak mungkin terjadi karena ia sudah tak pernah mendatangi kelas sejak 3 tahun yang lalu. Simpel saja permasalahannya, ia telat bergaul dalam membangun pertemanan di minggu-minggu awal kuliah. Ia menghabiskan sepanjang waktu mengurung diri di kosan hanya untuk bermain game dan masturbasi, tanpa membersihkan ruangannya membiarkan sampah menumpukk. Ia tahu ia melakukan kesalahan besar tapi ia tak tahu cara berhenti.

Setiap jam 9 malam, ia selalu mengunjungi minimarket langganannya, hanya untuk melihat malaikatnya, siswi SMA yang sangat anggun. Ia bahkan tahu sekali kebiasaan siswi tersebut yang setiap harinya pergi ke minimarket tersebut hanya untuk membeli sebuah cokelat dan minuman. Suatu hari, ia nekat untuk ingin berkenalan dengan gadis tersebut tetapi tidak tahu harus memulainya darimana. Hingga akhirnya ia hanya mengikuti dia saja dari belakang, terus mengikutinya, hingga gadis tersebut sadar telah diikutinya dan menoleh menatapnya.

Pagi harinya, Komori terbangun dengan tubuh gadis yang diidamkannya, Mari Yoshizaki, menjalani kehidupan gadis itu. Sebuah realita yang sulit dihadapi, harus bereaksi dan berpelilaku seperti apa dihadapan keluarganya, dirumah yang tak dikenal. Ketika ibunya mengingatkan Komori untuk bersekolah, ia sadar kemana jiwa Mari bila tubuhnya sedang dimasuki oleh Komori.

Mungkinkah bertukar tubuh? Untuk memastikan hal itu semua Komori kembali ke kosan tapi baru saja sampai di lokasi, Momoka, temannya Mari memergokinya dari belakang. Temannya mengira Mari mempunyai pacar anak kuliahan. Dengan cepat Komori membantahnya sehingga temannya Mari terkejut. Berkat kejadian ini terpaksa untuk pergi ke sekolah dahulu. Sayangnya ia juga tidak bisa berperilaku seperti Mari pada biasanya, membuat teman-temannya khawatir dengannya.

Sepulang sekolah Komori berlari mengunjungi kosannya lalu mengintip lewat jendela untuk melihat dirinya ada atau tidak. Ia tahu betul, apabila tidak ada disitu maka pasti sedang ada di minimarket, beristirahat sejenak setelah main game. Baru memasuki minimarket ia langsung melihat dirinya sendiri disitu, sedang membaca sebuah majalah. Sejak pagi ini, pikirannya dipenuhi dengan sejuta pertanyaan karena kejadian aneh yang dialaminya. Bila benar-benar bertukar tubuh, berarti jiwa Mari saat ini sedang ada di tubuhnya Komori? Tanpa basa-basi, ia menanyakan hal itu ke Komori. Sayangnya Komori yang sedang membaca majalah menganggapnya gila. Secara mendadak ditanyai apa mereka sedang bertukar tempat, ekspresi Komori seolah-olah mengatakan,"Dia tidak waras? apa yang sedang dikatakan gadis asing ini?"

Padahal jiwa Komori  sedang ada ditubuh Mari, tetapi jiwa Mari tidak bersemayam di tubuh Komori. Ada Komori lainnya di tubuh Komori? Lalu dimanakah jiwa Mari sekarang?


Boku wa Mari no Naka (Inside Mari)

Dark Twist
Kisah Komori yang ditulis oleh Oshimi-sensei memperlihatkan lika-liku dalam mencari Mari dengan sangat menarik. Tidak ada petunjuk satu pun dalam mencari Mari membuat makin sulit dan putus asa yang dialami Komori. Tak hanya mencari Mari hilang, ia juga harus mempertahankan gaya hidup Mari, berinteraksi menjaga hubungan dengan teman sekolahnya, dan ketika dirumah ia juga mencari tahu untuk mengenal Mari dan keluarganya lebih dalam. Ternyata Mari tidaklah sempurna yang dibayangkan, Tentu ia mengalami permasalahan remaja, seperti menahan rasa sakit datang bulan dan risih dilirik oleh banyak orang. Teman-teman sekolahnya pun sadar ada yang berubah dengan diri Mari. Dengan masalah yang menumpuk banyak pada jiwa Komori, terkadang, ralat seringkali ia lupa bahwa ia sedang di tubuh Mari, dan tidak seharusnya melakukan kebiasaan buruknya.

Konflik-konflik yang dihadirkan di manga ini tidak hanya satu, tapi ada banyak. Semua konflik yang dimunculkan disusun dengan rapi dan sangat natural. Ketika kita semakin mengenal lebih dekat dengan seseorang, maka kita tahu apa masalah yang sedang dialaminya, apa saja yang terjadi dengannya. Hal ini tampak dengan keseharian Mari yang sedang dijalani oleh Komori. Oshimi-sensei pun bisa mengatasi konflik-konflik yang ada dengan baik dan tidak berantakan. Tiap masalah dieksekusi satu per satu untuk diselesaikan tepat pada waktunya tanpa membentur konflik lain yang sedang berjalan atau pun menimbulkan konflik tersebut makin parah. Konflik yang sudah diselesaikan tidak berlalu begitu saja, tapi menggali lebih dalam apa yang terjadi pada Mari sebenarnya dan menjadi kunci untuk petunjuk mencari jiwa Mari yang entah hilang pergi kemana.

Yang paling menarik adalah Oshimi-sensei lihai sekali dalam mempermainkan psikologi tokoh-tokohnya sehingga kita selalu dikagetkan oleh hal-hal baru dan tak pernah bosan atau jenuh dalam membaca satu halaman ke halaman lainnya.
Read more ... → Boku wa Mari no Naka

March 27, 2017

Mangaka Highschool of the Dead Telah Berpulang Selamanya

Pada 22 Maret 2017 lalu mangaka Highschool of the Death, Daisuke Satou di usianya yang ke-52, telah berpulang untuk selama-lamanya. Penyebab kematian beliau adalah mengindap penyakit jantung iskemik. Highschool of the Dead sendiri telah hiatus dari tahun 2011. Meski di tahun 2013 beliau merilis chapter terbaru namun dikarenakan kondisi kesehatannya yang buruk Highschool of the Death harus kembali hiatus.

Yuuko Shinmyou, adiknya beliau, memimpin pemakaman beliau. Pemakaman tersebut dilakukan secara tertutup hanya untuk keluarga dan rekan-rekan terdekatnya.



Selain menciptakan Highschool of the Death bersama dengan Shouji Satou, beliau juga berkarya untuk Koukoku no Shugosha (皇国の守護者; Imperial Guards) pada tahun 2004 berkolaborasi dengan Yuu Itou yang bertugas menuliskan cerita. Komik adaptasi dari novel tersebut dinominasikan pada Manga Taisho dan Osamu Tezuka Cultural Awards, serta memenangkan hadiah Japanese Media Awards Festival di tahun 2005 dan 2006. Lalu pada 2008 Koukoku no Shugosha (Imperial Guards) kembali berajang di penghargaan manga dan berhasil menjadi runner-up di Japanese Media Arts Awards yang ke-9, Tezuka Cultural Prize yang ke-11 dan Manga Taisho Awards yang pertama.


Tak hanya manga saja, Daisuke Satou juga merilis boardgame Red Sun Black Cross pada tahun 1985.

Semoga beliau tenang di alam sana dan karya-karya hebatnya akan terkenang selalu.

Sumber: Akiba Nation
Read more ... → Mangaka Highschool of the Dead Telah Berpulang Selamanya

March 2, 2017

Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale

Seharusnya Sword Art Online the Movie –Ordinal Scale– tayang premiere di Indonesia minggu lalu, 18 Februari 2017, berbarengan dengan negara asia lainnya. Sayangnya di Indonesia ada sedikit hambatan sehingga pada tanggal 17 Februari belum ada informasi yang jelas dan tiket belum bisa dipesan. Ketika sudah dikonfirmasi akan tayang pada tanggal 25 Februari 2017, tiket premiere juga baru bisa dipesan pada selasa, 22 Februari 2017, dan kalian tahu tidak? Tiket itu ludes habis terjual pada pukul 13.00 entah itu Gold mau pun Reguler.

Aku sudah putus asa, dan padahal sudah secepat mungkin menginstall aplikasi CGV Blitz Megaplex. Sambil berharap terus menerus akan ditambahkan jam tayang, lalu harapanku dikabulkan tapi aku masih melewatkan kesempatan itu. Pada 23 Februari 2017 dibuka jadwal jam tayang baru yaitu 16:35 untuk Gold Class dan 16:15 untuk Regular dan aku telat banget ngeceknya. Aku mengecek jam 4 sore juga sudah habis terjual.

Sudah putus dan meratapi jadwal weekend-ku hancur, aku selalu berharap akan ditambahkan jam tayang baru. Dan sekali lagi harapanku dikabulkan kembali, pada malam hari 24 Ferbuari 2017 ternyata ditambahkan jam tayang baru 16:35 untuk Regular sayangnya aku mengeceknya saat jam 11 malam, hanya tersisa 6 bangku paling depan. Saat aku panik rebutan seat yang ada, ternyata data kartu member Blitz-ku belum ter-verification atau ke-synchronize ke email sehingga ternyata data identitas di aplikasi tersebut masih NULL semua dan aku super panik. Tiap kali aku mengecek jumlah bangkunya kadang bertambah kadang berkurang. Selesai mengisi identitas, yasudah aku mengambil posisi tengah paling depan dan segera lari ke ATM untuk membayarnya (karena hanya diberi range waktu 1 menit untuk pilih seat dan 15 menit untuk pembayaran). Dan setelah aku mentransfer ternyata seat yang kuinginkan sudah ke-unlock. Tapi aku tak mau nekat akan kehabisan tiket lagi, toh begitu aku cek pada pagi hari semua tiket sudah habis ludes.


SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale —

Antusias kartun SAO disini benar-benar tinggi! Para penonton sudah berbaris dengan rapi di depan pintu studio padahal masih ada waktu setengah jam lebih lho. Kukira yang nonton hanyalah orang-orang iseng sepertiku dan hanya ingin menghabiskan waktu luang, tapi mereka benar-benar fans SAO sejati. Mereka membicarakan setiap saat, entah itu cerita dan theori. Bahkan ada yang cosplay jadi Kirito juga, meski menggunakan pakaian kasual tapi doi benar-benar membawa pedangnya ke dalam bioskop! Karena issue yang terjadi di Malaysia dan Singapore, di Indonesia sangat waspada akan hal ini. Kita masih harus mengantri 10 menit untuk Security Check, yaitu matikan telepon dan masukan ke sebuah amplop lalu dicekrek deh. Film pun tak langsung tayang, ada seputar informasi dahulu dari host-nya seperti issue illegal recording. Mereka mengatakan apabila ada telepon seluler yang aktif ketika filmnya sedang berlangsung maka film akan langsung dihentikan dan dilakukan extra security check juga film yang dihentikan tidak akan dilanjutkan lagi serta no refund! Buruk sekali bukan!

SAO Movie diproduksi oleh studio A-1 Pictures dan distribukan Aniplex. Disutradarai oleh Itou Tomohiko yang sebelumnya sudah mengarahkan Silver Spoon, Seikimatsu Occult Gakuin dan Boku dake ga Inai Machi dan musik dikomposisikan oleh Yuki Kajiura yang sebelumnya mengarahkan musik di musik di Boku Dake ga Inai Machi, Fate/Zero dan Puella Magi Madoka Magica. Ordinal Scale merupakan cerita original dari Reki Kawahara khusus untuk movie ini. Yang membuatku kagum adalah ternyata kartun sudah didukung oleh audio Dolby Surround Sound (dan saat credit cap movie ini tampak dibuat oleh berbagai dan banyak studio).

SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale —

Candu Game
Sebenarnya agak sulit untuk bercerita, soalnya sudah disuruh untuk menutup mulut oleh para petugas CGV Blitz Megaplex. Jangan sampai spoiler, tapi rasanya tetap tidak tahan ingin bercerita sedikit saja. Apalagi sudah beredar trailer 12 menit pertama. Ya sebenarnya kalo kalian sudah menonton trailernya yang 12 menit pertama itu, seharusnya sudah tahu garis besar masalah di cerita kali. Ya lansgung akan kuceritakan (hingga 12 menit pertama itu).

Sebelum memasuki cerita di Ordinal Scale, akan ada sedikit flashback kenangan manis antara Yuuki Asuna dan Kirigaya Kazuto alias Kirito. Mereka membuat janji suci untuk melihat bintang jatuh bersama ketika sudah berhasil keluar dari Aincard, Sword Art Online.

Tahun 2026 sebuah game inovasi mulai mewabah di masyarakat. Apabila dulu NerveGear membuat pemainnya terjun langsung ke dalam Virtual Reality (VR) yang notabene membahayakan manusia karena terjebak dalam permainan SAO, maka Professor Shigemura mengembangkan permainan masa depan yang lebih aman dan realistis. Augma merupakan alat yang sangat aman karena pemain tetap dalam keadaan sadar dan lebih interaktif yang mengharuskan pemain menggerakan fisik secara langsung. Dasarnya struktur lingkungan sekitar tak berubah namun hanya tampilan lingkungan saja yang berubah. Alat ini sangatlah hits, tak hanya untuk bermain Augmented Reality (AR) tapi juga memiliki fungsi canggih lainnya yang seperti pada smartband, menghitung kalori pengguna, mencatat makanan favorit, mengirim pesan pendek atau bahkan sekedar memberitahukan acara televisi favorit.

Ordinal Scale (OS) adalah game ARMMORPG didesain khusus dari Augma yang saat ini sedang populer dimainkan. Game ini sering memberikan event-event khusus yang nantinya apabila ranking pemain semakin maka semakin banyak bonus yang didapat. Bonusnya tak hanya bonus game, melainkan bonus potongan harga atau free item di restoran atau pusat perbelanjaan.

SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale —

Kirito tidak menanggapi sama sekali dengan AR ini, ia berpikir VR jauh lebih seru meskipun AR sedang booming dimana-mana. Hingga suatu saat Kirito mendadak tertarik memainkan OS karena akan ada event dimana boss di Aincard SAO akan muncul di OS. Di event inilah Kirito dan Asuna bertemu dengan Eiji, pemain Ranking 2 dalam OS.

Mesin Steroid
Jujur saja aku belum menontn Sword Art Online II sama sekali, karena yang Season 1 ternyata tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku membayangkan akan penuh dengan action tapi nyatanya ternyata action-nya paling hanya 10% walau tidak sesuai dengan ekspektasiku, aku tetap mencoba menyelesaikan Season 1 (hingga selesai di arc ALfheim Online (ALO)).

Nah disini maka sebaliknya, porsi action banyak sekali, totalitas action. Tapi sayangnya Kirito cupu sekali dalam memainkan game AR. Eiji, Antagonis di OS, malah sangat over-power hingga ditengah-tengah film gerakannya makin tidak manusiawi. Sangat lincah bagaikan manusia super. Tapi nantinya akan ke-reveal mengapa Eiji bisa sehebat itu. Tetap saja saat awal-awal melihatnya reaksiku,"Dude, what?"

Di film ini juga menjadi sebuah jembatan perantara untuk mengenang kembali masa-masa SAO, akan ada banyak trivia, seperti boss yang hadir di Aincard. Dan tentunya, costume game di SAO tak terlewatkan disini.

Rath
Setelah selesai menonton jangan terburu-buru untuk selesai menonton atau langsung keluar bioskop (tapi toh saat premiere penonton tidak boleh keluar bila credit belum selesai juga). Karena saat credit screen ada banyak scene extra disitu dan setelah credit selesai akan ada after scene. Juga pengumuman untuk SAO Season 3,"SAO will be back."

Heboh Fantastis
Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti apakah untuk menonton movie ini harus nonton Season II-nya terlebih dahulu atau tidak tapi berdasarkan yang aku nonton kemarin sepertinya tidak perlu. Paling hanya sedikit kebingungan ada beberapa tokoh yang tidak dikenal (apabila tidak menonton Season II).

Untungnya aku duduk disebelah rombongan yang fans SAO, sehingga aku lumayan terbantu dengan penjelasan yang mereka berikan. Tepatnya orang yang disebelahku tanya terus-menerus sih keteman di sampingnya dan aku hanya mengupingnya. Menyedihkannya juga, banyak adgean yang menjurus ke "chapter 16.5", kukatakan sekali menjurus (alias mendekati), sehingga banyak penonton yang langsung teriak heboh histeris. Oh ayolah, padahal saat itu sedang adegan romantisnya, seriusnya, sedihnya dan nge-feel-nya. Aku sedikit lumayan terganggu. Bisa kukatakan SWORD ART ONLINE Movie — Ordinal Scale — mengalahkan Kimi no Na wa. di Indonesia. Terlihat sekali hype penonton di studio bioskop dan bahkan para penonton sudah berbaris dengan rapi padahal pintu studio masih akan dibuka 40 menit lagi. Apalagi penonton SAO sedikit-sedikit teriak dan banyak mendapatkan tepok tangan saat film sedang berlangsung.

Meski movie ini tidak ada adegan ecchi, tapi ada beberapa adegan yang telah di-'lulus sensor'. Contohnya ketika Asuna sedang mandi, maka screen hanya di-zoom ke wajah Asuna dan gambar shampoo dan isi kamar mandi diperlihatkan berkali-kali, layaknya saat menonton movie di televisi lokal.

Movie ini akan tayang pada 20 Maret 2017 mendatang yang sepertinya akan tayang dalam kurun waktu seminggu, bila peminatnya banyak ada kemungkinan besar maka masa tayang akan diperpanjang. Seperti pada kasus penayangan premiere, yang awalnya hanya ada 2 sesi ditambah hingga total penayangan premiere menjadi 5 sesi (dengan perbedaan waktu tiap 15 menit).

Karena aku hanya mendapatkan tiket premiere reguler aku tidak mendapatkan tanda tangan Haruka Tomatsu, ah padahal aku ingin sekali tanda tangan Tomacchan. Tiket reguler hanya akan mendapatkan papan tanda tangan secara acak. Ngomong-ngomong saat penukaran special merchandise tiket tak boleh jatuh dan penukaran dilakukan di studio itu juga. Apabila sudah ditukarkan dengan merchandise maka amplop telepon seluler sudah boleh dibuka kembali. Ini akan kusertakan screenshot tentang issue pembajakan di Malaysia dan Singapore dan tiket yang langsung habis di hari pertama dibuka.

Btw, sebenarnya aku cukup bingung dengan hubungan Asuna-Kirito. Meski mereka sudah berpacaran serius dalam real life tapi mereka masih memanggil satu sama lain dengan ingame name (nama di game-nya). Bukankah secara (reflek/tak sadar) begitu sudah mengetahui nama aslinya dan hubungannya semakin dekat secara otomatis akan memanggil satu sama lain dengan menggunakan nama aslinya?

Oh ya, petugas bioskopnya juga sangat menekankan issue ini agar kedepannya film Jepang masih bisa masuk ke Indonesia, ngomong-ngomong tulisanku disini bukan spoiler kan ya? Aku hanya ingin mengkonfirmasinya saja, agar aku tetap bisa menepati janji kepada para petugas bioskop dan berbagai pihak film yang telah bekerja untuk berlangsungnya film ini. Btw, perjuanganku saat membeli tiket ini aku tiap beberapa puluh menit sekali atau saat lumayan senggang selalu mengecek kembali aplikasi CGV ID Cinemas, karena kondisiku jauh dari tempat bioskop tersebut. Berbeda dengan temanku yang memesan tiketnya langsung datang ditempat.

Sword Art Online Movie Premiere langsung habis terjual

Pembajakan SAO Movie di Singapore dan Malaysia

Read more ... → Sword Art Online The Movie: Ordinal Scale

February 15, 2017

THE iDOLM@STER SideM Diangkat Menjadi Anime

THE iDOLM@STER SideM Anime


Semenjak perilisan mobage THE iDOLM@STER SideM pada pertengahan tahun 2014 selalu membuat fansnya penasaran. Kapan ya kira-kira diangkat menjadi anime. Tapi akhirnya setelah penantian selama 3 tahun terwujudkan juga!



Kemarin sore ada kabar mengembirakan tentang seri satu ini. Bahwa THE iDOLM@STER SideM akan ada animenya. Pengumuman diberitahukan pada saat konser THE iDOLM@STER SideM 2nd Stage ~Origin@l Stars~ yang berlangsung pada hari Minggu kemarin. Tentunya mereka juga sudah menyiapkan sebuah PV yang membuat para fansnya makin hype saja.


Selain menunjukan poster dan PV-nya, THE iDOLM@STER SideM masih memiliki acara lainnya yang akan di-streaming pada 15 Maret mendatangnya melalui jasa layanan Niconico Live. Mereka akan streaming di Stasiun Ani-On Akihabara di Tokyo. Mereka tampak sengaja memilih tanggal tersebut sesuai dengan nama Production-nya pada game (315Production, dibaca Saiko Production alias Ultimate Production).

Pada acara tersebut akan diungkapkan lebih rinci tentang visual, staff dan lainnya. Situs anime-nya juga telah disiapkan dengan tautan http://side-m.idolmaster-anime.jp/

THE iDOLM@STER SideM merupakan sebuah spin-off dari franchise THE iDOLM@STER yang berfokuskan pada idol laki-laki. Ada sebanyak idol 46 laki-laki yang bisa direkrut termasuk 4 idol dari seri sebelumnya, yaitu Ryou Akizuki bermula pada 876Production serta Touma Amagase, Hokuto Ijuuin dan Shouta Mitarai yang berasal dari 961Production. Tiap karakternya dibagi atas 3 tipe; Physical (merah), Intelligent (biru), dan Mental (kuning). Sama seperti permainan mobile sebelumnya, pemain akan menjadi Producer dan membimbing mereka untuk menjadi seorang idol. Saat ini, aplikasi game ini telah di-download sebanyak 1 juta kali.

Sumber: Akiba Nation
Read more ... → THE iDOLM@STER SideM Diangkat Menjadi Anime
 

Autumn 2015 Anime Chart

【Autumn 2015 Anime Chart】
For other info, click here.
For its hashtags, click here.

Featured Video


Random Posts